Konsep Utama Encounter group

Encounter group merupakan perkembangan yang relatif baru, pertumbuhan konsepnya dapat ditelusuri dari tahun 1914, ketika J.L.Moreno memberikan definisi literaturnya yang pertama sehubungan dengan serangkain puitisnya, diterjemahkan sebagai Invitation to an Encounter (Undangan untuk sebuah pertemuan) dalam menjelaskan hakikat sebuah pertemuan, dia menggambarkan dua orang yang bertukar pandang dalam usahanya memahami dan lebih mengenal satu sama lain. Konfrontasi awal antara individu tersebut pada dasarnya bersifat destruktif, dimana masing-masing mata orang yang satu berusaha untuk membuat tangis mata orang yang lain dan menggantikan mereka dengan matanya sendiri. Kemudian, begitu setiap orang mulai menyadari tindakannya sia-sia. Pemahaman tentang diri mereka sendiri dan juga pemahaman terhadap satu sama lain muncul ketika tiap orang bisa melihat orang lain melalui mata orang lain.
    
Menurut Wibowo, Mungin Eddy (2005:23-24) Encounter group  yang kadang-kadang dikenal juga sebagai kelompok pendorong pertumbuhan pribadi (personal-growth group) memberikan suatu pengalaman kelompok yang mendalam yang dirancang untuk membantu orang-orang sehat dalam mengembangkan kontak yang lebih baik dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Aturan dasar encounter group ini yaitu bahwa para pesertanya harus terbuka dan jujur dalam kerangka kelemahannya, dan mereka hanya bicara tentang perasaan dan pendapatnya. Penekanan kegiatan kelompok adalah untuk memancing emosi dan menyatakan emosi itu secara penuh; oleh karena itu, dalam pertemuan itu setiap peserta didorong untuk melakukan berbagai konfrontasi mengenai permasalahan yang muncul. Encounter group itu terpusat pada pembahasan masalah yang terjadi “di sini dan saat ini” dan ditujukan untuk “mengajar” orang hidup “pada saat ini”. Pada umumnya para peserta encounter group ini belum mengenal satu sama dengan lainnya, mereka masih asing satu dengan lainnya.
    
Encounter group  biasanya bertemu pada akhir pecan dan anggotanya mengemukakan dirinya di hadapan orang banyak. Pembukaan diri (self disclouser) sangat ditekankan dalam kelompok ini. Melalui pembukaan diri ini diharapkan bahwa anggota akan lebih mengerti akan dirinya sendiri dan pribadinya akan berkembang kea rah yang lebih memuaskan. Pada umumnya encounter group tersusun dari orang-orang yang tak saling kenal yang secara sukarela hadir bersama-sama untuk sebuah sesi yang lamanya bisa dari seminggu hingga beberapa minggu, atau bisa hanya membutuhkan beberapa jam setiap minggunya.
Menurut Wibowo, Mungin Eddy (2005:23-24 bahwa    Fokus utama pada encounter group  adalah pada pengembangan kesadaran, ekspresi, dan penerimaan perasaan para anggotanya. Kelompok tersebut diharapkan menciptakan suatu suasana dimana para pesertanya mampu berhubungan satu sama lain secara lebih mendalam daripada yang biasa dialami pada interaksi personal yang tradisional
Istilah kelompok-pertemuan juga termasuk dalam keluarga kelompok-T, namun lebih berorientasi terapi. Rogers (dalam Gibson,R.L, & Mitchell,M.H. 2011) mendefinisikan kelompok-pertemuan sebagai kelompok yang menitikberatkan pertumbuhan pribadi lewat pengembangan dan penyempurnaan hubungan-hubungan antar-pribadi dengan mengalami proses kelompok. Kelompok jenis ini mengupayakan pelepasan potensi partisipan-partisipannya :
    
Di sebuah kelompok yang intensif, dengan banyak kebebasan dan sedikit struktur,secara bertahap individu akan merasa cukup aman untuk melepaskan beberapa pertahanan dan samarannya; dia akan menjalin hubungan lebih langsung berbasis perasaan (melakukan perkenalan mendasar) dengan anggota-anggota lain dalam kelompok, dia akan mulai memahami dirinya dan keterkaitannya dengan orang lain secara lebih tepat; dia akan berubah dalam sikap dan perilaku pribadinya; pada akhirnya dia akan menjalin hubungan yang lebih efektif dengan orang lain di tiap situasi hidup sehari-harinya.

Perluasan kelompok-pertemuan sering disebut kelompok –marathon. Kelompok-maraton sengaja menggunakan batasan waktu yang sangat lebar agar padatnya pengalaman dan kelelahan yang menyertai diharapkan bisa meruntuhkan semua pertahanan partisipan sehingga problem bisa dilihat sejernih mungkin dari berbagai sisi.
Kelompok encounter timbul dari T-group dalam usaha untuk memfokuskan diri pada pertumbuhan anggota kelompok secara individu, bukan kelompok itu sendiri. Ditujukan pada orang-orang “berfungsi normal” yang menginginkan pertumbuhan, perubahan, dan perkembangan, Lieberman (dalam Gladding,S.T. 2012). Menurut William Shutz (dalam Gladding,S.T. 2012) encounter group merupakan kelompok yang sangat terstruktur dan terbuka. Terlepas dari strukturnya, penekanan utama dari kelompok-kelompok ini terletak pada ekspresi individual dan pengakuan akan emosi.
Kelompok pertemuan dasar, seperti yang didefinisikan oleh Rogers (1970), yang dibangun pada beberapa tempat. Itu pertama adalah percaya pada sumber daya batin orang. Sebagai Rogers (1980) katakan,
Individu memiliki dalam diri mereka sendiri sumber daya yang luas untuk pemahaman diri dan mengubah-consepts diri, sikap dasar, dan perilaku self-directed, sumber daya tersebut dapat disadap jika iklim didefinisikan sikap psikologis fasilitatif dapat disediakan. (Hal.115)

Sebuah premis yang mendasari kedua pendekatan ini adalah rasa percaya dalam kelompok untuk membantu anggota mengembangkan potensi mereka tanpa diarahkan dengan cara tertentu oleh seorang pemimpin. Ini pada dasarnya adalah sebuah keyakinan bahwa kelompok pertemuan akan mempromosikan dasar kecenderungan pertumbuhan positif yang berada dalam individu
Menurut Wibowo, Mungin Eddy (2005:23-24) Secara umum, tujuan encounter group adalah membantu individu-individu untuk :
a.    Membebaskan asset-aset beku di dalam dirinya dengan mengekspos diri mereka sendiri kepada satu pengalaman yang membutuhkan investasi emosional. Tingkat pengembalian yang diharapkan dari investasi ini ialah orang akan menyadari potensi pertumbuhan mereka.
b.    Menyadari potensi yang tersembunyi, menemukan kekuatan-kekuatan yang  tidak dimanfaatkan, dan mengembangkan kreativitas dan spontanitas.
c.    Memudahkan pertumbuhan personal dan aktualisasi diri.
d.    Terlibat di dalam keakraban dan interaksi  yang berarti dengan anggota lainnya.
e.    Menjadi terbuka dan jujur dalam berkomunikasi dengan orang lain.
f.    Mempertipis rasa keterasingan dari orang lain.
g.    Mengurangi sikap pura-pura yang menghambat perasaan intim.
h.    Menjadi terbebas dari nilai-nilai luar dan mengembangkan nilai-nilai dari dalam dirinya.
i.    Mengurangi perasaan terasing dan ketakutan untuk berdekatan dengan orang lain.
j.    Belajar bagaimana meminta secara langsung sesuatu yang diinginkannya.
k.    Belajar membedakan antara memiliki perasaan dengan tindakan yang dilakukannya.
l.    Meningkatkan kemampuan untuk mengurusi orang lain.
m.    Belajar bagaimana memberi sesuatu kepada orang lain.

sumber :

Gladding,S.T. 2012. Konseling : Profesi yang Menyeluruh,edisi keenam. Jakarta:Indeks Permata
Puri Media.

Wibowo, Mungin Eddy. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: UNNES PRESS.

0 التعليق:

Post a Comment

Penulis
Pendidikan
1. S1 BK (STKIPMPL)
2. S2 BK (Unnes)