Berbagi Pengalaman Membuka Usaha Bimbel (Part I)

Kesalahan yang Biasa terjadi saat pendirian Bimbel :

1. Modal awal terlalu besar

Kesalahan dari banyak Manajer atau Investor adalah dengan Prinsip ”Modal Besar Keuntungan Besar”.  Dalam menejemen Bimbingan Belajar tidak bisa diartikan seperti itu, karena bimbingan belajar merupakan perusahaan Jasa bukanlah perusahaan Barang. Dalam perusahaan Jasa yang terpenting adalah kepuasan Pelanggan, Secara lebih sederhana kita misalkan Tukang Cukur Rambut.
Dalam minggu pertama Tukang cukur tersebut buka stand cukur rambut di sebuah ruko, apakah langsung mendapatkan pelanggan ?, Tidak, bahkan kadang dalam 1 bulan pertama kemungkinan hanya mendapatkan 1 orang pelanggan.

Apabila pelanggan pertama tadi oleh si Tukang cukur tersebut dilayani dengan baik, dengan bahasa yang komunikatif, mendengarkan apa yang dia ceritakan, mendengarkan keluh kesahnya, dengan ruangan yang sederhana tetapi nyaman, dan yang paling penting hasil cukuran rambutnya persis seperti apa yang dia inginkan. Apakah bulan depan dia akan bercukur rambut di tempat lain.
Bulan pertama Tukang cukur mendapatkan 1 orang pelanggan, bulan kedua mendapatkan 3 orang pelanggan dan seterusnya.

Apakah 6 bulan pertama tukang cukur tersebut dapat membiayai hidupnya dengan hanya mendapatkan 1 – 10 orang pelanggan?, tentu saja tidak. Tukang cukur rambut itu harus mengerti bahwa ketika menggeluti bisnis tukang cukur pasti akan seperti itu. Bisnis Bimbingan Belajar hampir sama dengan bisnis tukang cukur rambut, yang terpenting adalah pelayanan yang baik dan peningkatan kualitas siswa bimbingan. Biasanya Bimbingan Belajar akan mendapatkan Laba setelah berjalan selama kurang lebih 6 bulan.

Bagaimana mengantisipasinya ?

  • Apabila Anda bermodal pas-pasan (kurang dari 10 juta), lebih baik memakai rumah sendiri sebagai bimbel atau menyewa ruang / rumah yang murah, dengan begitu biaya operasional dapat ditekan. 
  • Saat perekrutan pegawai carilah pegawai yang tidak terlalu memprioritaskan uang sebagai tujuan utama dalam bekerja, agar saat kita kehabisan modal bimbel tetap dapat berjalan.
  • Buatlah fasilitas seminim mungkin tetapi dapat menjalankan bisnis ini dengan sempurna, maksudnya kebutuhan utama bimbel sudah terpenuhi.
  • Perbaikan fasilitas bimbel dapat dilakukan secara bertahap, perbaikan disana-sini antara lain pengecatan, penambahan kelas, pembuatan front office, kipas angin dll. Biarlah konsumen melihat perkembangan kita, karena bimbel yang terlihat berkembang lebih disukai konsumen daripada bimbel yang terlihat stagnan (tetap)
  • Kegiatan marketing lebih baik dilakukan sendiri bersama pegawai yang sudah ada, sebar brosur adalah pilihan utama, tetapi jangan menyebar brosur secara acak. Saat akan menyebar brosur Anda lebih baik melihat peta dalam Google Map sehingga jelas, daerah mana yang padat penduduk.
  • Ringkasnya dalam perkembangan Bimbel 6 bulan pertama biasanya laba hanya dapat menutup biaya operasional dan biaya penambahan fasilitas.


Peluang Membuka Usaha Bimbel

Apa yang harus dilakukan saat pertama kali pendirian Bimbel ?

Jika Anda belum mempunyai staff, atau ingin mengelola sendiri Bimbel Anda. Anda perlu  mempelajari Standar Operating Procedure ini. Untuk saat pertama kali pendirian Bimbel Anda perlu melakukan hal-hal berikut hampir secara bersamaan dengan urutan sebagai berikut :

1. Membuat dan memasang banner di depan lokasi bimbel
Jika Anda punya modal besar, pasanglah banner dengan megah. Tetapi untuk Anda dengan modal Pas-pasan pasang banner sesuai dengan keinginan Anda.
Tips. Memasang Banner
Pasanglah minimal ukuran 2 x 1 meter, menghadap jalan atau menyamping untuk dobel side.

2. Memasang pengumuman pencarian Tentor
Pasanglah pengumuman pencarian tentor di Koran, Majalah, Kantor Pos, Dinas Tenaga Kerja. Pengumuman Lowongan Tentor yang berbayar lebih efektif karena  terlihat lebih bonafit, mereka lebih percaya dengan sistem seperti itu.

3. Menyebar Brosur
Sebar Brosur ditempat strategis, jangan terlalu banyak dahulu karena sifat dari Brosur ini hanyalah pengenalan.

4. Menyiapkan Fasilitas Bimbingan seperti Kursi, meja dll
Siapkan fasilitas bimbingan yang diperlukan untuk kelas dan administrasi, agar calon konsumen yang datang tidak keheranan melihat tempat bimbingan masih berantakan.
Jika Anda punya modal besar Pakailah Kursi ber meja standar Kuliah, tetapi untuk Anda yang bermodal pas-pasan pakai Karpet dan meja kecil-kecil saja sudah cukup, untuk pertama kali pembuatan Bimbel yang penting Rapi dan Bersih.

5. Membuat dan menyiapkan peralatan administrasi
Kwitansi, Brosur (harga bimbingan), peraturan Bimbingan, daftar hadir tentor, daftar pembayaran siswa, form pendaftaran siswa baru perlu disiapkan.

6. Mulai memperbaiki dan menambahkan fasilitas dan admin.
Setelah berjalan dan ada beberapa siswa yang mendaftar perlu penambahan-penambahan fasilitas yang perlu untuk ditambah.

Kualitas Pribadi Konselor

Kualitas pribadi konselor merupakan faktor yang sangat penting dalam konseling. beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pribadi konselor menjadi faktor penentu bagi pencapaian konseling yang efektif, disamping faktor pengetahuan tentang dinamika perilaku dan keterampilan terapeutik atau konseling.

Menurut cavanagh (1982) kualitas pribadi konselor ditandai dengan beberapa karakteristik sebagai berikut :
1. Self-knowledge (pemahaman diri)
2. Competence (kompeten)
3. Good Psychological Health (kesehatan psikologi yang baik)
4. Trustworthiness (dapat dipercaya)
5. Honesty (Jujur)
6. Strength (kekuatan)
7. Warmth (bersikap hangat)
8. Actives responsiveness
9. Patience (sabar)
10. Sensitivity (kepekaan)
11. Holistic awareness (kesadaran holistic)

Kualitas pribadi konselor diperlukan terutama untuk mempersiapkan calon konselor. Pihak lembaga hendaknya mempersiapkan calon konselor tersebut dengan memfasilitasi perkembangan pribadi mereka yang berkualitas, yang dapat dipertanggungjawabkan secara profesional

ADHD

ATTENTION deficit hyperactivity disorder is now the most prevalent psychiatric illness of young people in America, affecting 11 percent of them at some point between the ages of 4 and 17. The rates of both diagnosis and treatment have increased so much in the past decade that you may wonder whether something that affects so many people can really be a disease.

And for a good reason. Recent neuroscience research shows that people with A.D.H.D. are actually hard-wired for novelty-seeking — a trait that had, until relatively recently, a distinct evolutionary advantage. Compared with the rest of us, they have sluggish and underfed brain reward circuits, so much of everyday life feels routine and understimulating.

To compensate, they are drawn to new and exciting experiences and get famously impatient and restless with the regimented structure that characterizes our modern world. In short, people with A.D.H.D. may not have a disease, so much as a set of behavioral traits that don’t match the expectations of our contemporary culture.

From the standpoint of teachers, parents and the world at large, the problem with people with A.D.H.D. looks like a lack of focus and attention and impulsive behavior. But if you have the “illness,” the real problem is that, to your brain, the world that you live in essentially feels not very interesting.

One of my patients, a young woman in her early 20s, is prototypical. “I’ve been on Adderall for years to help me focus,” she told me at our first meeting. Before taking Adderall, she found sitting in lectures unendurable and would lose her concentration within minutes. Like many people with A.D.H.D., she hankered for exciting and varied experiences and also resorted to alcohol to relieve boredom. But when something was new and stimulating, she had laserlike focus. I knew that she loved painting and asked her how long she could maintain her interest in her art. “No problem. I can paint for hours at a stretch.”

Rewards like sex, money, drugs and novel situations all cause the release of dopamine in the reward circuit of the brain, a region buried deep beneath the cortex. Aside from generating a sense of pleasure, this dopamine signal tells your brain something like, “Pay attention, this is an important experience that is worth remembering.”

The more novel and unpredictable the experience, the greater the activity in your reward center. But what is stimulating to one person may be dull — or even unbearably exciting — to another. There is great variability in the sensitivity of this reward circuit.

Clinicians have long known this to be the case, and everyday experience bears it out. Think of the adrenaline junkies who bungee jump without breaking a sweat and contrast them with the anxious spectators for whom the act evokes nothing but terror and dread.

Dr. Nora D. Volkow, a scientist who directs the National Institute on Drug Abuse, has studied the dopamine reward pathway in people with A.D.H.D. Using a PET scan, she and her colleagues compared the number of dopamine receptors in this brain region in a group of unmedicated adults with A.D.H.D. with a group of healthy controls. What she found was striking. The adults with A.D.H.D. had significantly fewer D2 and D3 receptors (two specific subtypes of dopamine receptors) in their reward circuits than did healthy controls. Furthermore, the lower the level of dopamine receptors was, the greater the subjects’ symptoms of inattention. Studies in children showed similar changes in dopamine function as well.

These findings suggest that people with A.D.H.D are walking around with reward circuits that are less sensitive at baseline than those of the rest of us. Having a sluggish reward circuit makes normally interesting activities seem dull and would explain, in part, why people with A.D.H.D. find repetitive and routine tasks unrewarding and even painfully boring.

Psychostimulants like Adderall and Ritalin help by blocking the transport of dopamine back into neurons, thus increasing its level in the brain.

Another patient of mine, a 28-year-old man, was having a lot of trouble at his desk job in an advertising firm. Having to sit at a desk for long hours and focus his attention on one task was nearly impossible. He would multitask, listening to music and texting, while “working” to prevent activities from becoming routine.

Eventually he quit his job and threw himself into a start-up company, which has him on the road in constantly changing environments. He is much happier and — little surprise — has lost his symptoms of A.D.H.D.


My patient “treated” his A.D.H.D simply by changing the conditions of his work environment from one that was highly routine to one that was varied and unpredictable. All of a sudden, his greatest liabilities — his impatience, short attention span and restlessness — became assets. And this, I think, gets to the heart of what is happening in A.D.H.D.

Consider that humans evolved over millions of years as nomadic hunter-gatherers. It was not until we invented agriculture, about 10,000 years ago, that we settled down and started living more sedentary — and boring — lives. As hunters, we had to adapt to an ever-changing environment where the dangers were as unpredictable as our next meal. In such a context, having a rapidly shifting but intense attention span and a taste for novelty would have proved highly advantageous in locating and securing rewards — like a mate and a nice chunk of mastodon. In short, having the profile of what we now call A.D.H.D. would have made you a Paleolithic success story.

In fact, there is modern evidence to support this hypothesis. There is a tribe in Kenya called the Ariaal, who were traditionally nomadic animal herders. More recently, a subgroup split off and settled in one location, where they practice agriculture. Dan T. A. Eisenberg, an anthropologist at the University of Washington, examined the frequency of a genetic variant of the dopamine type-four receptor called DRD4 7R in the nomadic and settler groups of the Ariaal. This genetic variant makes the dopamine receptor less responsive than normal and is specifically linked with A.D.H.D. Dr. Eisenberg discovered that the nomadic men who had the DRD4 7R variant were better nourished than the nomadic men who lacked it. Strikingly, the reverse was true for the Ariaal who had settled: Those with this genetic variant were significantly more underweight than those without it.

So if you are nomadic, having a gene that promotes A.D.H.D.-like behavior is clearly advantageous (you are better nourished), but the same trait is a disadvantage if you live in a settled context. It’s not hard to see why. Nomadic Ariaal, with short attention spans and novelty-seeking tendencies, are probably going to have an easier time making the most of a dynamic environment, including getting more to eat. But this same brief attention span would not be very useful among the settled, who have to focus on activities that call for sustained focus, like going to school, growing crops and selling goods.

You may wonder what accounts for the recent explosive increase in the rates of A.D.H.D. diagnosis and its treatment through medication. The lifetime prevalence in children has increased to 11 percent in 2011 from 7.8 percent in 2003 — a whopping 41 percent increase — according to the Centers for Disease Control and Prevention. And 6.1 percent of young people were taking some A.D.H.D. medication in 2011, a 28 percent increase since 2007. Most alarmingly, more than 10,000 toddlers at ages 2 and 3 were found to be taking these drugs, far outside any established pediatric guidelines.

Some of the rising prevalence of A.D.H.D. is doubtless driven by the pharmaceutical industry, whose profitable drugs are the mainstay of treatment. Others blame burdensome levels of homework, but the data show otherwise. Studies consistently show that the number of hours of homework for high school students has remained steady for the past 30 years.

I think another social factor that, in part, may be driving the “epidemic” of A.D.H.D. has gone unnoticed: the increasingly stark contrast between the regimented and demanding school environment and the highly stimulating digital world, where young people spend their time outside school. Digital life, with its vivid gaming and exciting social media, is a world of immediate gratification where practically any desire or fantasy can be realized in the blink of an eye. By comparison, school would seem even duller to a novelty-seeking kid living in the early 21st century than in previous decades, and the comparatively boring school environment might accentuate students’ inattentive behavior, making their teachers more likely to see it and driving up the number of diagnoses.


Not all the news is so bad. Curiously, the prevalence of adult A.D.H.D. is only 3 to 5 percent, a fraction of what it is in young people. This suggests that a substantial number of people simply “grow out” of it. How does that happen?

Perhaps one explanation is that adults have far more freedom to choose the environment in which they live and the kind of work they do so that it better matches their cognitive style and reward preferences. If you were a restless kid who couldn’t sit still in school, you might choose to be an entrepreneur or carpenter, but you would be unlikely to become an accountant. But what is happening at the level of the brain that may explain this spontaneous “recovery”?

To try to answer that question, Aaron T. Mattfeld, a neuroscientist at the Massachusetts Institute of Technology, now at Florida International University in Miami, compared the brain function with resting-state M.R.I.s of three groups of adults: those whose childhood A.D.H.D persisted into adulthood; those whose had remitted; and a control group who never had a diagnosis of it. Normally, when someone is unfocused and at rest, there is synchrony of activity in brain regions known as the default mode network, which is typically more active during rest than during performance of a task. (In contrast, these brain regions in people with A.D.H.D. appear functionally disconnected from each other.) Dr. Mattfeld found that adults who had had A.D.H.D as children but no longer had it as adults had a restoration of the normal synchrony pattern, so their brains looked just like those of people who had never had it.


WE don’t yet know whether these brain changes preceded or followed the behavioral improvement, so the exact mechanism of adult recovery is unclear.

But in another measure of brain synchrony, the adults who had recovered looked more like adults with A.D.H.D., the M.I.T. study found.

In people without it, when the default mode network is active, another network, called the task-positive network, is inhibited. When the brain is focusing, the task-positive network takes over and quiets the default mode network. This reciprocal relationship is necessary in order to focus.

Both groups of adult A.D.H.D. patients, including those who had recovered, displayed simultaneous activation of both networks, as if the two regions were out of step, working at cross-purposes. Thus, adults who lost most of their symptoms did not have entirely normal brain activity.

What are the implications of this new research for how we think about and treat kids with A.D.H.D.? Of course, I am not suggesting that we take our kids out of school and head for the savanna. Nor am I saying we that should not use stimulant medications like Adderall and Ritalin, which are safe and effective and very helpful to many kids with A.D.H.D.

But perhaps we can leverage the experience of adults who grew out of their symptoms to help these kids. First, we should do everything we can to help young people with A.D.H.D. select situations — whether schools now or professions later on — that are a better fit for their novelty-seeking behavior, just the way adults seem to self-select jobs in which they are more likely to succeed.

In school, these curious, experience-seeking kids would most likely do better in small classes that emphasize hands-on-learning, self-paced computer assignments and tasks that build specific skills.

This will not eliminate the need for many kids with A.D.H.D. to take psychostimulants. But let’s not rush to medicalize their curiosity, energy and novelty-seeking; in the right environment, these traits are not a disability, and can be a real asset.

Correction: November 16, 2014
An opinion essay on Nov. 2 about the treatment of attention deficit hyperactivity disorder omitted an attribution for part of the description of an M.I.T. study comparing patterns of brain activity in adults who had recovered from childhood A.D.H.D. and adults who had not. The description of one finding — about the similarity of the two groups on one measure of brain synchrony — came from a news release from the McGovern Institute for Brain Research at M.I.T.

----
Richard A. Friedman is a professor of clinical psychiatry and the director of the psychopharmacology clinic at the Weill Cornell Medical College.

psychiatrist and psychopharmacologist

AMERICAN psychiatry is facing a quandary: Despite a vast investment in basic neuroscience research and its rich intellectual promise, we have little to show for it on the treatment front.

With few exceptions, every major class of current psychotropic drugs — antidepressants, antipsychotics, anti-anxiety medications — basically targets the same receptors and neurotransmitters in the brain as did their precursors, which were developed in the 1950s and 1960s.

Sure, the newer drugs are generally safer and more tolerable than the older ones, but they are no more effective.

Even the new brain stimulatory treatments like repetitive transcranial magnetic stimulation don’t come close to the efficacy of electroconvulsive treatment, developed in the 1940s. (Deep brain stimulation is promising as a treatment for intractable depression, but it is an invasive treatment and little is known about its long-term safety or efficacy.)

At the same time, judging from research funding priorities, it seems that leaders in my field are turning their backs on psychotherapy and psychotherapy research. In 2015, 10 percent of the overall National Institute of Mental Health research funding has been allocated to clinical trials research, of which slightly more than half — a mere 5.4 percent of the whole research allotment — goes to psychotherapy clinical trials research.

As a psychiatrist and psychopharmacologist who loves neuroscience, I find this trend very disturbing. First, psychotherapy has been shown in scores of well-controlled clinical trials to be as effective as psychotropic medication for very common psychiatric illnesses like major depression and anxiety disorders; second, a majority of Americans clearly prefer psychotherapy to taking medication. For example, in a meta-analysis of 34 studies, Dr. R. Kathryn McHugh at McLean Hospital found that patients were three times more likely to want psychotherapy than psychotropic drugs.

Finally, many of our patients have histories of trauma, sexual abuse, the stress of poverty or deprivation. There is obviously no quick biological fix for these complex problems.

Still, there has been a steady decline in the number of Americans receiving psychotherapy along with a concomitant increase in the use of psychotropic medication in those who are treated in the outpatient setting. These trends are most likely driven by many factors, including cost and the limited availability that most Americans have to mental health practitioners. It is clearly cheaper and faster to give a pill than deliver psychotherapy.

The doubling down on basic neuroscience research seems to reflect the premise that if we can unravel the function of the brain, we will have a definitive understanding of the mind and the causes of major psychiatric disorders. Indeed, an editorial in May in one of the most respected journals in our field, JAMA Psychiatry, echoed this view: “The diseases that we treat are diseases of the brain,” the authors wrote.

Even if this premise were true — and many would consider it reductionist and simplistic — an undertaking as ambitious as unraveling the function of the brain would most likely take many years. Moreover, a complete understanding of neurobiology is unlikely to elucidate the complex interactions between genes and the environment that lie at the heart of many mental disorders. Anyone who thinks otherwise should remember the Decade of the Brain, which ended 15 years ago without yielding a significant clue about the underlying causes of psychiatric illnesses.

Sure, we now have astounding new techniques for studying the brain, like optogenetics, in which neurons can be controlled by light, allowing researchers to understand how neurons work alone and in networks. But no one thinks breakthrough biological treatments are just around the corner.

More fundamentally, the fact that all feelings, thoughts and behavior require brain activity to happen does not mean that the only or best way to change — or understand — them is with medicine. We know, for instance, that not all psychiatric disorders can be adequately treated with biological therapy. Personality disorders, like borderline and narcissistic personality disorders, which are common and can cause impairment and suffering comparable to that of severe depression, are generally poorly responsive to psychotropic drugs, but are very treatable with various types of psychotherapy.

There is often no substitute for the self-understanding that comes with therapy. Sure, as a psychiatrist, I can quell a patient’s anxiety, improve mood and clear psychosis with the right medication. But there is no pill — and probably never will be — for any number of painful and disruptive emotional problems we are heir to, like narcissistic rage and paralyzing ambivalence, to name just two.

Anyone who doubts the need for psychotherapy research should consider the case of post-traumatic stress disorder, for which the mainstay of treatment has been exposure therapy.

This requires patients to re-experience the circumstances of their traumatic event, which is meant to desensitize them and teach them that their belief that they are in danger is no longer true.

But we know that many patients with PTSD do not respond to exposure, and many of them find the process emotionally upsetting or intolerable.

Dr. John C. Markowitz, a professor of clinical psychiatry at Columbia University, recently showed for the first time that PTSD is treatable with a psychotherapy that does not involve exposure. Dr. Markowitz and his colleagues randomly assigned a group of patients with PTSD to one of three treatments: prolonged exposure, relaxation therapy and interpersonal psychotherapy, which focuses on patients’ emotional responses to interpersonal relationships and helps them to solve problems and improve these relationships. His federally funded study, published in May’s American Journal of Psychiatry, reported that the response rate to interpersonal therapy (63 percent) was comparable to that of exposure therapy (47 percent).

PTSD is a serious public mental health problem, particularly given the rates of PTSD in our veterans returning from war. This study now gives clinicians a powerful new therapy for this difficult-to-treat disorder. Imagine how many more studies like Dr. Markowitz’s might be possible if the federal funding of psychotherapy research were not so stingy.

The brain is notoriously hard to study and won’t give up its secrets easily. In contrast, psychotherapy research can yield relatively quick and powerful results. Given the critically important value — and popularity — of therapy, psychotherapy research deserves a much larger share of research dollars than it currently receives.

Don’t get me wrong. I’m all for cutting-edge neuroscience research — and lots of it. But we are more than a brain in a jar. Just ask anyone who has benefited from psychotherapy.

Biodata Penulis Blog

Nama : Isni Dhanianto, M.Pd
Jenis Kelamin : Laki-laki

Pendidikan
S1 BK STKIPMPL Lulus 2012
S2 BK UNNES Lulus 2015

Pekerjaan
1. Dosen di STMIK Pringsewu
2. Dosen di Prodi BKI FDIK IAIN Raden Intan Lampung
3. Waka Kurikulum SMAI Al Anshor Putri
4. Manajer Bimbel Aqila Course Bumiratu


Konseling Kelompok teknik CBT (Cognitive Behaviour Therapy)

Karakteristik khusus terapi perilaku meliputi (1) melakukan penilaian perilaku, (2) tepatnya mengeja tujuan pengobatan kolaboratif, (3) merumuskan prosedur perawatan khusus yang sesuai untuk masalah tertentu, dan (4) secara obyektif mengevaluasi hasil terapi.

Dalam proses konseling terapi perilaku kognitif terdapat tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap kerja dan tahap akhir.

Fungsi dan peran konselor Sebuah asumsi dasar dari CBT adalah bahwa hubungan kerja yang baik antara pemimpin dan anggota adalah penting, tetapi tidak kondisi yang cukup untuk perubahan. Praktisi perilaku kognitif yang paling menekankan nilai membangun kemitraan kolaboratif antara anggota dan pemimpin.

Terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan dalam konseling CBT dalam kelompok, yaitu Pelatihan Kemampuan Sosial dalam Kelompok, Terapi Kognitif Kelompok, Pelatihan Manajemen Stres dalam Kelompok dan Perhatian dan Penerimaan Pendekatan Kognitif Pada Perilaku Terapi.

Sebuah pendekatan perilaku kognitif memungkinkan untuk evaluasi metode intervensi. Dengan fokus pada penelitian, teknik ini dibuat lebih tepat sehingga mereka dapat digunakan dengan klien tertentu dengan berbagai masalah spesifik. Pendekatan perilaku kognitif untuk kerja kelompok cocok dengan konteks gerakan praktik berbasis bukti.


DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 2012. Theory and Practice of Group Counseling. United  Kingdom: Brooks/Cole.


Ingin mendapatkan makalah Lengkapnya?

silahkan kunjungi www.isnidhanianto.blogspot.com


Pendekatan Evaluasi Berorientasi Peserta

Evolusi  Pendekatan Evaluasi Berorientasi Peserta

Pada awal tahun 1967, beberapa teori evaluasi mulai bereaksi. Dalam bidang pendidikan. Teori ini menyatakan keprihatinan bahwa evaluator sebagian besar sibuk dengan menyatakan dan mengklasifikasikan tujuan, merancang sistem evaluasi rumit, pengembangan instrumentasi objektif teknis, dan pembuatan laporan teknis yang panjang, dengan hasil bahwa evaluator yang terganggu dari apa yang sebenarnya terjadi dalam program yang mereka dievaluasi. Sebuah segmen meningkatnya pendidikan masyarakat dan pelayanan manusia berpendapat bahwa unsur manusia, tercermin dalam kompleksitas realitas sehari-hari dan perspektif yang berbeda dari mereka yang terlibat.

Akibatnya, orientasi baru untuk evaluasi muncul, yang menekankan pengalaman langsung dengan kegiatan program dan pengaturan dan keterlibatan. Program peserta dalam evaluasi. Pendekatan umum, yang tumbuh dengan cepat setelah awal 1970-an, bertujuan untuk mengamati dan mengidentifikasi semua (atau sebanyak mungkin) dari kekhawatiran, masalah, dan konsekuensi Integral untuk pelayanan manusia.

Evaluator menggambarkan nilai yang berbeda dari kebutuhan Individu dan kelompok dilayani oleh program, dengan menyeimbangkan pluralitas penilaian dan kriteria dalam mode sebagian besar intuitif (Dengan intuitif, kita tidak berarti bahwa evaluator tidak dapat mendekati tugas ini secara sistematis melainkan bahwa tidak ada algoritma dia dapat mengikuti. Dengan demikian, intuisinya tentang bagaimana kriteria masing-masing akan menentukan bagaimana penghakim berbentuk) Apa yang dinilai "terbaik" sangat bergantung pada nilai-nilai dan perspektif dari mana kelompok atau individu yang menilai. Dengan melibatkan peserta dalam menentukan batas-batas evaluasi, evaluator melayani fungsi edukatif yang penting dengan menciptakan baik-informasi staf program.

Merupakan bagian dari makalah, selengkapnya dapat di unduh di bawah ini


Password ada di GROUP FACEBOOK SANG KONSELOR, silahkan klik gambar FB di pojok atas, Password gratis


Model-model Intervensi Konseling

Pendekatan Konseling dan psikoterapi sudah mulai berkembang berbagai macam pendekatan dan jenis layanan yang dipakai untuk membatu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh seorang klien sehingga klien bisa berkembang dengan baik. Dengan adanya layanan, jenis pendekatan yang dipakai dan model proses dalam konseling maka menuntut seorang konselor untuk bisa memenuhi harapan. Berbagai macam pendekatan, teori, model yang berkembang pesat membantu seorang konselor untuk bisa berkembang dan menjadi konselor yang professional.

Pada kesempatan kali ini, admin akan membagikan secara gratis makalah Model-model Intervensi Konseling, dengan rincian isi dari makalah sebagai berikut :
A. Teori konseling sebagai sebuah keuntungan
1 Teori sifat konseling
2 Hubungan model
3 Model perilaku

B. Konseling kelompok
1 Keuntungan konseling kelompok
2 Resiko
3 Pedoman untuk pemimpin kelompok
4 Dinamika kelompok dan pemimpin kelompok
5 Tugas dan fungsi pemeliharaan
6 Pola komunikasi
7 Struktur kekuasaan
8 Memperkirakan efektifitas
9 Implikasi dan isu konseling kelompok
10 Kelompok kerja dan praktek profesional

C. Konsultasi dan pelatihan
1 Konsultasi
2 Latihan

D. Pengembangan organisasi
1 Relevansi pengembangan organisasi untuk konseling profesional
2 Studi perilaku organisasi
3 Intervensi organisasi

E. Model proses untuk konseling profesional
1 Sifat teori konseling
2 Model proses dalam konseling
3 Model proses umum
4 Mengevaluasi proses dan hasil
5 Mambangun proses model sendiri

Semakin banyaknya perkembangan konseling menuntut seorang konselor untuk lebih bisa manjadi pribadi yang berkompetensi dalam bidangnya. Konselor diharapkan bisa memahami teori dan bisa mengaplikasikan teori dalam kehidupanya dalam membantu konseli, sehingga dengan adanya perkembangan konseling yang semakin pesat akan membantu konselor menjadi semakin professional.
________
------------

NB : Password sudah di sediakan di Grup FB SANG KONSELOR, silahkan bergabung dan lihat di File Grup FB. 

Peran Keluarga dalam Membentuk Kepribadian Anak

Keluarga dengan orang tua sebagai kunci utama dalam memainkan peranan penting dalam membentuk kepribadian anak, peranan tersebut dapat dilihat dari berbagai aliran/teori psikologi sebagai berikut :

a. Teori psikologi asosiasi

Psikologi asosiasi atau disebut juga dengan teori empirisme atau teori tabula rasa menunjuk betapa pentingnya peranan orang tua dalam membentuk kekepribadianan anak, menurut teori ini, anak diibaratkan selembar kertas putih, yang kemudian sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman.

Menurut John Locke, ada dua macam pengalaman, yaitu “pengalaman luar dan pengalaman dalam. Pengalaman luar diperleh melalui pengalaman panca indra yang menimbulkan sensation, sedangkan pengalaman dalam yaitu pengalaman mengenai keadaan dan kegiatan batin sendiri yang dicapai dengan internal sense” (Sumadi Suryabrata, 1984: 73).

Kedua macam kesan yaitu reflextions dan sensations merupakan pengertian sederhana dengan asosiasi membentuk pengertian yang lebih bersusun (Complex ideas). Bahkan menurut aliran Behaviorisme, koneksionisme dan pavlosionisme (sebagai variasi dari aliran asosiasi) beranggapan bahwa “tingkah laku manusia itu tersusun atas kebiasaan-kebiasaan sebagai unsur-unsurnya yang sederhana, apa yang terbentuk dalam perkembangan dan belajarnya individu adalah kebiasaan-kebiasaan itu dan dari kebiasaan itulah tersusun tingkah laku yang kompleks” (Sumadi Suryabrata, 1984: 73)

Sejak anak lahir di dunia yang diindra pertama kali adalah keluarga (orang tua), berangsur-angsur tumbuh dan berkembang menjadi anak dan kemudian remaja sebagian waktunya berada dalam lingkungan keluarga, maka pengalaman luar atau pengalaman pancaindra yang paling banyak adalah didapat dari lingkungan keluarga, segala sesuatu yang ada di sekitar kehidupan anak termasuk ucapan, sikap dan tingkah laku anggota keluarga menjadi isi pengalaman pancaindra ini, yang kelak akan memberi bentuk pada tingkah laku yang lebih kompleks.

Dilihat dari alirang psikologi asosiasi, peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak adalah penting sekali, peranan itu antara lain sebagai model yang ditiru anak dan sekaligus sebagai pembentuk kebiasaan yang akan mejadi bagian dari kekepribadianan anak. 

b. Teori Gestalt

Menurut aliran ini, inti dari perkembangan anak adalah proses diferensiasi, pengenalan anak terhadap dunia luar merupakan proses diferensiasi; mula-mula anak mengamati dunia luar dengan samar-samar, kemudian objek itu mulai jelas bentuknya dan lebih jauh anak bisa membedakan masing-masing benda itu, demikian pula dalam perkembangan fungsi motorik, mula-mula gerakan yang dilakukan anak kecil tidak menentu (asal bergerak), kemudian ada gerak spontan dan gerak-gerak yang bersifat reaktif, yang dalam perkembangannya ada gerak yang reaktif-positif (meraih, menghampiri, menggenggam) dan gerak reaktif-negatif (mengelak, menghindari). (Sumadi Suryabrata, 1984 : 75).

Khususnya perkembangan motorik, dalam proses diferensiasi ini peranan keluarga (orang tua) sangat penting, terutama adalah pemberi bentuk gerakan anak yang benar (sesuai dengan kebiasaan atau norma yang berlaku), misalnya makan, fungsi orang tua adalah member bentuk bagaimana agar anak makan dengan tangan kanan tidak dengan tangan kiri, memegang sendok dengan benar, berjalan dengan benar, member respon kebaikan orang dengan benar (missal : ucapan terima kasih setelah diberi atau ditolong orang ) dan sebagainya, sehingga anak tersebut bisa berkembang di lingkungan masyarakat dengan normal.

Satu hal yang perlu diketahui oleh orang tua dalam hubungannya dengan teori gestalt ini adalah hendaknya orang tua selalu bersikap jujur dan terbuka kepada anak, sebab pada akhirnya yang semula samar-samar dalam pengamatan anak akhirnya akan jelas (diketahui) juga, oleh sebab itu tidak ada artinya orang tua bermain pura-pura di depan anaknya.

c. Teori Psikologi Medan

Aliran ini merupakan variasi dari aliaran Gestalt yang dipelopori oleh Kurt Lewin, menurut teori ini;
Manusia digambarkan dengan terdiri dari lapisan-lapisan (strata), dimana lapisan-lapisan itu semakin lama semakin bertambah jumlahnya, makin bertambah seseorang, maka lapisan-lapisan itu semakin bertambah dan terbentuk, isi batin digambarkan sebagai berlapis-lapis. Lapisan yang paling luar adalah lapisan yang paling mudah berhubungan dengan dunia luar, artinya paling mudah dipengaruhi oleh dunia luar, dan paling mudah dinyatakan keluar. Lapisan yang paling dalam adalah lapisan yang bersifat pribadi, mungkin hal yang dipandang paling rahasia, hal yang tidak dinyatakan kepada setiap orang, melainkan hanya akan dinyatakan kepada seseorang (orang tertentu), juga dalam hal ini merupakan hal yang paling dipertahankan dan paling sukar dipengaruhi. (Sumadi Suryabrata, 1984:76).

Dilihat dari segi Teori Psikologi Medan, fungsi orang tua sebagai pemberi warna pengaruh lapisan yang paling luar, baik atau buruknya warna lapisan yang paling luar dipengaruhi oleh pemberi warna/bentuk. Jika lapisan yang paling luar itu mendapat pengaruh jelek, maka warna/bentuk lapisan akan menjadi jelek. Sebaliknya jika lapisan paling luar mendapat pengaruh baik, maka warna/bentuk lapisan akan baik. Contohnya anak yang dalam lingkungan keluarganya biasa dilatih oleh orang tuanya dengan tutur kata yang sopan, maka pengaruh latihan ini akan memberi warna pada tutur kata anak dalam kehidupan anak sehari-hari.

Oleh sebab itu orang tua harus aktif memberi pengaruh yang baik terhadap lapisan yang paling luar, apabila tidak, maka orang lain akan member bentuknya, dimana bentuk tersebut belum tentu baik. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika anak yang orang tuanya selalu sibuk di luar, sementara anak lebih banyak berinteraksi dengan pembantu rumahtangganya atau temannya, maka kemudian ucapan atau tindakan pembantu/teman yang lebih nampak member warna bagi anak tersebut.

Sumber : Sumadi, Suryabrata. 1984. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : Rake Press

Pencegahan dan Pengobatan Retardasi Mental

Untuk mendiagnosa Retardasi Mental pada seseorang dengan tepat, perlu diambil Anamnesa dari orang tua dengan sangat teliti mengenai kehamilan, persalinan dan perkembangan anak. Bila mungkin dilakukan juga pemeriksaan Psikologik, bila perlu diperiksa juga di laboratorium, diadakan evaluasi pendengaran dan bicara. Observasi Psikiatrik dikerjakan untuk mengetahui adanya gangguan Psikiatrik disamping Retardasi Mental itu sendiri.
Pencegahan Primer pada orang dengan Retardasi Mental dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan keadaan Sosio-Ekonomi, Konseling Genetik dan Tindakan Kedokteran (seperti perawatan Prenatal yang baik, pertolongan persalinan yang baik, kehamilan pada wanita Adolesen dan diatas 40 tahun dikurangi dan pencegahan peradangan otak pada anak-anak).
Pencegahan Sekunder meliputi diagnosa dan pengobatan dini peradangan otak, Perdarahan Subdural, Kraniostenosis (sutura tengkorak menutup terlalu cepat, dapat dibuka dengan Kraniotomi; pada Mikrosefali yang Kogenital, operasi tidak menolong)

Pencegahan Tersier merupakan pendidikan penderita atau latihan khusus sebaiknya disekolah luar biasa. Dapat diberi Neuroleptika kepada yang gelisah, Hiperaktif atau Dektruktif.

Konseling kepada orang tua dilakukan secara Fleksibel dan Pragmatis dengan tujuan antara lain membantu mereka dalam mengatasi Frustrasi oleh karena mempunyai anak dengan Retardasi Mental. Orang tua sering menghendaki anak diberi obat, oleh karena itu dapat diberi penerangan bahwa sampai sekarang belum ada obat yang dapat membuat anak menjadi pandai, hanya ada obat yang dapat membantu pertukaran Zat (Metabolisme) sel-sel otak.

Kriteria diagnostik retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu : 2
1. Fungsi intelektual yang secara signifikan dibawah rata-rata. IQ kira-kira 70 atau dibawahnya pada individu yang dilakukan test IQ.
2. Gangguan terhadap fungsi adaptif paling sedikit 2 misalnya komunikasi, kemampuan menolong diri sendiri, berumah tangga, sosial, pekerjaan, kesehatan dan keamanan.
3. Onsetnya sebelum berusia 18 tahun

Diagnosis Banding

Anak-anak dari keluarga yang sangat melarat dengan deprivasi rangsangan yang berat (retardasi mental ini reversibel bila diberi rangsangan yang baik secara dini). Kadang-kadang anak dengan gangguan pendengaran atau penglihatan dikira menderita retardasi mental. Mungkin juga gangguan bicara dan “cerebral palsy” membuat anak kelihatan terbelakang, biarpun intelegensianya normal. Gangguan emosi dapat menghambat kemampuan belajar sehingga dikira anak itu bodoh. “early infantile” dan skizofrenia anak juga sering menunjukkan gejala yang mirip retardasi mental.

Penyebab Retardasi Mental

Beberapa Penyebab Retardasi Mental yaitu 

1. Akibat Infeksi dan/atau Intoksikasi.
Dalam Kelompok ini termasuk keadaan Retardasi Mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi Intrakranial, cedera Hipoksia (kekurangan oksigen), cedera pada bagian kepala yang cukup berat, Infeksi sitomegalovirus bawaan, Ensefalitis, Toksoplasmosis kongenitalis, Listeriosis, Infeksi HIV, karena serum, obat atau zat toksik lainnya.

2. Akibat Rudapaksa dan atau Sebab Fisik Lain.
Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan Retardasi Mental, Pemakaian alkohol, kokain, amfetamin dan obat lainnya pada ibu hamil, Keracunan metilmerkuri, Keracunan timah hitam juga dapat mengakibatkan Retardasi Mental.

3. Akibat Gangguan Metabolisme, Pertumbuhan atau Gizi.
Semua Retardasi Mental yang langsung disebabkan oleh gangguan Metabolisme (misalnya gangguan metabolime lemak, karbohidrat dan protein), Sindroma Reye, Dehidrasi hipernatremik, Hipotiroid kongenital, Hipoglikemia (diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik), pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini hal-hal seperti Kwashiorkor, Marasmus, Malnutrisi dapat mengakibatkan Retardasi Mental.

4. Akibat Kelainan pada Kromosom
Kelainan ini bisa diartikan dengan kesalahan pada jumlah Kromosom (Sindroma Down), defek pada Kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Willi), dan Translokasi Kromosom.

5. Akibat Kelainan Genetik dan Kelainan Metabolik Yang Diturunkan.
Seperti Galaktosemia, Penyakit Tay-Sachs, Fenilketonuria, Sindroma Hunter, Sindroma Hurler, Sindroma Sanfilippo, Leukodistrofi metakromatik, Adrenoleukodistrofi, Sindroma Lesch-Nyhan, Sindroma Rett, Sklerosis tuberose

6. Akibat Penyakit Otak Yang Nyata (Postnatal).
Dalam kelompok ini termasuk Retardasi Mental akibat Neoplasma (tidak termasuk pertumbuhan sekunder karena rudapaksa atau peradangan) dan beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul etiologinya (diduga herediter). Reaksi sel-sel otak ini dapat bersifat degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik atau reparatif.

7. Akibat Penyakit/Pengaruh Pranatal Yang Tidak Jelas.
Keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya, termasuk Anomali Kranial Primer dan Defek Kogenital yang tidak diketahui sebabnya.

8. Akibat Prematuritas dan Kehamilan Wanita diatas 40 tahun.
Kelompok ini termasuk Retardasi Mental yang berhubungan dengan keadaan bayi pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau dengan masa hamil kurang dari 38 minggu. Serta behubungan pula dengan kehamilan anak pertama pada wanita Adolesen dan diatas 40 tahun.

9. Akibat Gangguan Jiwa Berat.
Untuk membuat diagnosa ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang berat itu, dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak.

10. Akibat Deprivasi Psikososial dan Lingkungan
Retardasi Mental dapat disebabkan oleh fakor-faktor Biomedik maupun Sosiobudaya seperti Kemiskinan, Status ekonomi rendah, Sindroma deprivasi. Contohnya Gangguan gizi yang tergolong berat dan berlangsung lama dibawah dan sebelum umur 4 tahun sangat memepengaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan Retardasi Mental. Namun keadaan gangguan Gizi ini dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum usia menginjak umur 6 tahun, namun tetap saja intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan walaupun anak itu dibanjiri dengan makanan bergizi.

Definisi Keterbelakang Mental

Keterbelakangan Mental atau lazim disebut Retardasi Mental (RM) adalah suatu keadaan dimana keadaan dengan Intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak-anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah Intelegensi yang terbelakang. Retardasi Mental disebut juga Oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau Tuna Mental. Keadaan tersebut ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada dibawah rata-rata dan disertai dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri atau berprilaku adaptif.
Retardasi Mental sebenarnya bukan suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil dari proses Patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap Intelektualitas dan fungsi Adaptif. 

Retardasi Mental ini dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa maupun gangguan fisik lainnya.
Pada kenyataannya IQ (Intelligence Quotient) bukanlah merupakan satu-satunya patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya Retardasi Mental. Melainkan harus dinilai berdasarkan sejumlah besar keterampilan spesifik yang berbeda. Penilaian tingkat kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang tersedia, termasuk temuan Klinis, Prilaku Adaptif dan hasil Tes Psikometrik. 

Untuk diagnosis, yang pasti harus ada penurunan tingkat kecerdasan yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan adaptasi terhadap tuntutan dari lingkungan sosial biasa sehari-hari. Pada pemeriksaan fisik pasien dengan Retardasi Mental dapat ditemukan berbagai macam perubahan bentuk fisik, misalnya perubahan bentuk kepala: Mikrosefali, Hidrosefali, dan Sindrom Down. Wajah pasien dengan Retardasi Mental sangat mudah dikenali seperti Hipertelorisme, lidah yang menjulur keluar, gangguan pertumbuhan gigi dan ekspresi wajah tampak tumpul. Sebagai kriteria dan bahan pertimbangan dapat dipakai juga kemampuan untuk dididik atau dilatih dan kemampuan sosial atau kerja. Tingkatannya mulai dari taraf yang Ringan, Taraf Sedang, Taraf Berat, dan Taraf Sangat Berat. . Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

Retardasi Mental Ringan

IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang terkena Retardasi Mental. Pada umumnya anak-anak dengan Retardasi Mental Ringan ini tidak dapat dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah.
Retardasi Mental Sedang
IQ sekitar 35-40 sampai 50-55
Retardasi Mental Berat
IQ sekitar 20-25 sampai 35-40.
Retardasi Mental Sangat Berat
IQ dibawah 20 atau 25.

Batas masa remaja

Terdapat keragaman dalam menetapkan batasan dan ukuran tentang kapan mulainya dan kapan berakhirnya masa remaja itu. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau Harold Alberty (dalam Nurihsan dan Agustin, 2013) menyatakan bahwa periode masa remaja itu kiranya dapat didefinisikan secara umum sebagai suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang semenjak berakhirnya masa kanak-kanaknya sampai datangnya awal masa dewasanya. Secara tentative pula para ahli umumnya sependapat bahwa rentangan masa remaja itu berlangsung dari sekitar 11-13 tahun sampai 18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran seseorang.

Dalam rentangan periode yang cukup panjang (6-7 tahun) itu ternyata terdapat beberapa indikator yang menunjukkan perbedaan yang berarti (meskipun bersifat gradual, baik secara kuantitatif maupun kualitatif) dalam karakteristik dari berbagai aspek perilaku dan pribadi pada tahun-tahun permulaan dan tahun-tahun terakhir pada masa remaja itu. Oleh karena itu, para ahli juga cenderung mengadakan pembagian lagi ke dalam masa remaja awal (early adolescent, puberty) dan remaja akhir (late adolescent) yang mempunyai rentangan waktu antara 11-13 tahun sampai 14-15 tahun dan 14-16 sampai 18-20 tahun. Charlote Buhler (dalam Nurihsan dan Agustin, 2013) menambahkan suatu masa transisi ke periode ini ialah masa pre-puberteit (pra-remaja) yang berkisar sekitar 10-12 tahun dari kalender kelahiran yang bersangkutan.