PENYESUAIAN DIRI DAN LINGKUNGAN KARIR

a. Pengertian

Penyesuaian diri merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hidup manusia sejak lahir hingga meninggal tidak lain merupakan bentuk penyesuaian diri, sehingga dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri dilakukan oleh manusia sepanjang hidup. Manusia memerlukan penyesuaian diri terhadap diri dan lingkungannya dalam menghadapi berbagai permasalahan. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh manusia sepanjang hayatnya, karena pada dasarnya setiap manusia ingin mempertahankan eksistensinya. Manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya baik fisik, psikis, maupun sosialnya sejak lahir hingga meninggal.

Seseorang dapat dikatakan mampu melakukan penyesuaian diri dengan normal manakla dia mampu secara sempurna memenuhi kebutuhannya, tanpa melebihkan yang satu dan mengurangi yang lain, dengan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, serta bertanggungjawab terhadap masyarakat tempat dia hidup. Manusia sejak lahir telah dihadapkan dengan lingkungan, yang mnejadi sumber stress. Cara-cara yang dilakukan untuk menghadapi lingkungan beranekaragam dan keberhasilannya juga beranekaragam. Bagi mereka yang gagal akan mengalami maladjustment yang ditandai dengan perilaku menyimpang dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di lingkungan atau gangguan yang lain. Penyesuaian diri bersifat relatif, karena tidak ada orang yang mampu menyesuaikan diri secara sempurna. Alasan pertama penyesuaian bersifat relatif adalah melibatkan kapasitas seseorang dalam mengatasi tuntutan dari dalam dan dari lingkungan. Kedua adalah karena kualitas penyesuaian diri bervariasi antara satu masyarakat atau budaya dengan masyarakat atau budaya lain. Ketiga adalah karena adanya perbedaan-perbedaan pada setiap individu, setiap orang mengalami masa naik dan turun dalam penyesuaian diri.

Dalam memberikan pengertian penyesuaian diri, di kalangan para ahli ada perbedaan. Perbedaan ini dikarenakan dalam memberikan definisi berangkat dari titik tekan yang berbeda, ada yang menitikberatkan perspektif psikologis dan sosiologis. Menurut Lazarus (Zakiyah, 2010:2), bahwa penyesuaikan berasal dari kata”to adjust” berarti untuk membuat sesuai atau cocok, beradaptasi, atau mengakomodasi. Penyesuaian merupakan proses bagaimana individu mengatur berbagai ”demands” atau permintaan. Permintaan yang dimaksud adalah permintaan  yang dikehendaki seseorang dengan  fenomena  yang ada di  dalam masyarakat. Siswa yang dapat menyesuaikan diri dengan permintaan lingkungannya diharapkan tidak mengalami permasalahan dalam proses pencapaian prestasi akademik

Menurut Yusuf (2005: 27) memberikan pengertian dari perspektif sosiologis, bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan, mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik dengan memperhatikan norma atau tuntutan lingkungan di mana seseorang hidup.

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud   dengan   penyesuaian   diri   adalah   suatu   proses   dinamis   yang berkelanjutan dan bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu, orang lain, dan  lingkungannya.

b. Ciri-ciri penyesuaian diri

Setiap benda atau sesuatu hal pasti mempunyai ciri atau karakteristik yang berbeda  antara  yang  satu  dengan  yang  lainnya,  baik  ciri  psoitif  atau  negatif, begitu pula dengan penyesuaian diri.
Adapun ciri penyesuaian diri positif menurut Hammad (2008:23-24) adalah: (a) terhindar dari ekspresi emosi yang berlebihan, atau kekurangmampuan mengontrol diri; (b) terhindar dari mekanisme-mekanisme psikologis, seperti: kompensasi, sublimasi, rasionalisasi, proyeksi, melamun dan sebagainya; (c) mempunyai    pertimbangan    dan    pengarahan    diri    yang    rasional    (ketika memecahkaan masalah berdasarkan alternatif-alternatif yang telah diperhitungkan serta mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang dipilih); (d) mampu belajar untuk mengembangkan kualitas dirinya sehingga mampu mengulangi timbulnya problem; (e) mampu bersikap realistis dan objektif dalam memecahkan masalah; dan  (f)  mampu  memanfaatkan pengalaman  masa lalu,  untuk  mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri

Ada beberapa faktor  yang ikut  menunjang keberhasilan  dalam mewujudkan penyesuaian diri kepada siswa. Mislanya, faktor yang diungkapkan Schneneiders  (1964:122),  bahwa  faktor  yang  mempengaruhi  penyesuaian  diri dapat digolongkan menjadi 5 (lima) yaitu:

  1. Phsyical conditions (kondisi fisik), yaitu faktor yang terjadi secara alami dan faktor ini berhubungan dengan struktur jasmaniah yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor keturunan, seperti: temperamen dan sifat yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri;
  2. Development and maturation (perkembangan dan kematangan), yaitu penyesuaian   diri   individu   yang   disebabkan   oleh   perkembangan   dan kematangan  yang  dicapainya  seseorang,  seperti:  faktor  kematangan intelektual, sosial, moral, dan kematangan emosional, maka lebih mudah melakukan penyesuaian dibandingkan dengan individu yang kurang matang, karena  ia  mampu  mengendalikan  diri  dan  bereaksi  lebih  tepat  dan  sesuai situasi yang dihadapi;
  3. Psychological condition (kondisi psikologis), yaitu penyesuaian diri yang disebabkan karena psikologis, seperti: pengalaman, proses belajar, pengkondisian, self-determination, frustrasi, dan konflik;
  4. Environmental conditions (kondisi lingkungan), yaitu penyesuaian diri yang disebabkan karena adanya lingkungan yang mendukung, seperti: lingkungan rumah, keluarga dan sekolah; dan
  5. Cultural and religion (budaya dan agama), yaitu penyesuaian diri yang disebabkan karena adanya budaya atau adat istiadat dan agama (baik yang berasal dari keluarga, sekolah, lingkungan, dan masyarakat).

d. Lingkungan Karir

Memilih sebuah karir lebih dari sekedar menentukan apa yang akan dilakukan seseorang untuk mencari nafkah. Pekerjaan memberikan pengaruh bagi kehidupan seseorang secara keseluruhan, termasuk kesehatan fisik dan mental. “ada interkoneksi antara peran pekerjaan dan peranan lain dalam kehidupan” Imbimbo (dalam Gladding, 2004). NCDA (dalam Gladding, 2004) mendefinisikan informasi karir sebagai “informasi yang berhubungan dengan dunia pekerjaan yang dapat berguna dalam proses pengembangan karir, termasuk informasi pendidikan, jabatan dan psikososial yang berhubungan dengan pekerjaan, seperti pelatihan yang disediakan, sifat pekerjaan dan status pekerja dalam berbagai jabatan”. 

Bimbingan karir dan penyebaran informasi karir secara tradisional digambarkan sebagai aktivitas sekolah. Tetapi prosesnya lebih sering dilakukan di luar lingkungan kelas, misalnya di lembaga pemerintahan, industri, perpustakaan dan rumah-rumah atau dengan praktisi pribadi. Namun, tidak semua cara belajar sama efektifnya seperti cara yang lain, dan mereka yang gagal untuk mempersonalisasi informasi karir ke dalam situasi spesifik, seringkali mengalami kesulitan dalam membuat keputusan tentang profesi. Hasilnya adalah aspirasi tidak realistis, sasaran di luar kemampuan seseorang. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyediakan informasi kuantitatif dan kualitatif kepada individu yang tengah mengambil keputusan mengenai karir termasuk sifat dari proses pengambilan keputusan mengenai karir, seperti menjelaskan bahwa “keraguan dalam menentukan karir semakin berkembang seoring berjalannya waktu dan proses pembuatan keputusan adalah hal yang kompleks, tidak sederhana” Krieshok, dalam (Gladding, 2004).

Pengetahuan mengenai lingkungan karir dan proses yang berhubungan dengannya tidak menjamin adanya eksplorasi diri dalam pengembangan karir, tetapi keputusan karir yang bagus tidak dapat dibuat tanpat data tersebut. Kurangnya informasi terhadap lingkungan karir merupakan salah satu alasan, semakin banyaknya orang gagal untuk membuat keputusan atau membuat pilihan yang tidak bijak terhadap karir mereka.
Bimbingan karir mencakup semua aktivitas yang mencoba untuk menyebarkan informasi mengenai jabatan masa kini atau masa depan, sehingga orang-orang menjadi lebih tahu dan sadar mengenai siapa mereka dalam hubungannya dengan dunia pekerjaan. Aktivitas bimbingan dapat berwujud :
- Pameran karir (mengundang para praktisi dari sejumlah bidang untuk menjelaskan tugas-tugas mereka.
- Tugas kepustakaan
- Wawancara lapangan
- Informasi pengalaman lewat komputer
- “Bayangan” karir (mengikuti rutinitas pekerjaan sehari-hari seseorang)
- Pengajaran didaktik
- Latihan pengalaman seperti bermain peran

Bimbingan karir dan penyebaran informasi karir secara tradisional digambarkan sebagai aktivitas sekolah. Tetapi prosesnya lebih sering dilakukan di luar lingkungan kelas, misalnya dilembaga pemerintahan, industri, perpustakaan dan rumah-rumah atau dengan praktisi pribadi Harris-Bowlsbey (dalam Gladding, 2004) 



DAFTAR PUSTAKA

Gladding, Samuel, T. 2004. Counseling: A Comprehensive Profession. Singapore. Pearson Education Singapore Pte. Ltd. Chapter14: Career Counseling Over The Life Span

Hammad, EL. Azzam. 2008. Kesehatan Mental Orang Dewasa. Restu Agung : Jakarta

Schneiders, A. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New York : Mc. Grave-Hill, Inc.

Yusuf, Syamsu. 2005. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya

Zakiyah Naili dkk. 2010. “Hubungan antara Penyesuaian Diri dengan Prokrastinasi Akademik siswa Sekolah Berasrama SMP N 3 Peterongan Jombang”. Jurnal Psikologi Undip. Vol. 8 No 2 Oktober 2010. 2960-6427-1-SM

0 التعليق:

Post a Comment

Penulis
Pendidikan
1. S1 BK (STKIPMPL)
2. S2 BK (Unnes)