Makna Karir, Kematangan Karir dan Kesuksesan Karir Berdasarkan Gender

Makna Karir

Persaingan untuk memasuki dunia kerja semakin  ketat  dan kompetitif.  Di sisi lain,  sistem penerimaan kerja yang dulu berorientasi pada formasi kini cenderung berubah ke arah kaulifikasi. Akibatnya, apabila seseorang tidak mempersiapkan diri secara baik dan maksimal sebagai sumber daya yang handal, dikhawatirkan akan kalah dalam percaturan di dunia pekerjaan yang akhirnya akan menjadi pengangguran. 

Mencermati hal di atas, agar individu dapat memperoleh jabatan atau pekerjaan yang memuaskan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya, maka diperlukan perencanaan karir secara matang. Surya (1988) menegaskan bahwa karir erat kaitannya dengan pekerjaan, tetapi mempunyai makna yang lebih luas dari pada pekerjaan. Karir dapat dicapai melalui pekerjaan yang direncanakan dan dikembangkan secara   optimal   dan   tepat,   tetapi   pekerjaan   tidak   selamanya   dapat menunjang pencapaian karir. Dengan demikian pekerjaan merupakan tahapan penting dalam pengembangan karir. Sementara itu, perkembangan karir sendiri memerlukan proses panjang dan berlangsung.

Munandir (1996) menyatakan bahwa karir erat kaitannya dengan pekerjaan dan hal memutuskan karir bukanlah peristiwa sesaat , melainkan proses yang panjang dan merupakan bagian dari proses perkembangan individu. Hoyt (dalam Gibson dan Mitchell, 1995) menjelaskan bahwa karir adalah totalitas  dari  pengalaman  pekerjaan/jabatan  seseorang  dalam sepanjang hidupnya. Dalam arti sempit karir adalah jumlah total dari pengalaman pekerjaan/jabatan seseorang dalam kategori pekerjaan umum, seperti sebagai pengajar, akunting, dokter, atau sales.

Sementara itu Gibson dan Mitchell (1995) menjelaskan bahwa karir adalah jumlah total dari pengalaman hidup dan gaya hidup seseorang. Secara konseptual, karir erat kaitannya dengan pekerjaan, perkembangan karir, pendidikan karir, bimbingan karir, konseling karir, informasi pekerjaan, jabatan, dan pendidikan jabatan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa antara karir, pendidikan karir, perkembangan karir, dan konseling karir merupakan istiah- istilah yang  saling berhubungan. 

Karena itu satu tanpa yang lain tidak akan efektif dan kurang bermakna. Dimaksudkan dengan pendidikan karir adalah seluruh  aktivitas dan pengalaman  yang  direncanakan  untuk  menyiapkan seseorang untuk  memasuki dunia kerja,  perkembangan karir merupakan aspek dari totalitas perkembangan yang mendasarkan pada belajar tentang, persiapan untuk, masuk ke,   dan kemajuan dalam   dunia pekerjaan. Sedangkan konseling karir adalah aktivitas yang dimaksudkan untuk menstimulasi   dan memfasilitasi perkembangan karir sepanjang hidupnya. Aktivitas tersebut termasuk membantu dalam perencanaan karir, pengambilan keputusan karir, dan penyesuaian karir. Dengan demikian, pendidikan karir akan menstimulasi perkembangan karir, sedangkan konseling karir akan memberikan arah terhadap pendidikan dan perkembangan karir.

Kematangan Karir

Berkaitan dengan tugas-tugas dalam perkembangan karir, Super mengembangkan konsep kematangan karir yang menunjuk pada keberhasilan seseorangan dalam menyelesaikan semua tugas perkembangan karirnya. Indikasi relevan bagi kematanan karir adalah misalnya kemampuan untuk membuat rencana, kerelaan untuk memikul tanggungjawab, serta kesadaran akan segala faktor internal dan eksternal yang harus dipertimbangkan dalam membuat pilihan jabatan atau memantapkan diri dalam suatu jabatan. Setiap manusia yang hidup pasti memiliki rentang hidup, baik dalam aspek apa pun salah satunya tentang kematangan karir. 

Dalam teori rentang hidup dari Super terdapat suatu konsep yang disebut dengan kematangan karir Kematangan karir) merupakan tema penting dan sentral dalam teori perkembangan karir masa hidup (life span career development) yang dicetuskan oleh Super. Super memperkenalkan dan mempopulerkan konsep tentang kematangan karir setelah penelitiannya tentang pola karir di tahun 1950-an. Kematangan karir didefinisikan sebagai kesesuaian antara perilaku karir individu dengan perilaku karir yang diharapkan pada usia tertentu disetiap tahap. menurut Super dalam Sharf (1992: 155) menyatakan bahwa kesiapan individu untuk membuat pilihan karir yang tepat.

Dillard (1985) mengatakan bahwa kematangan karir merupakan sikap individu dalam pembuatan keputusan karir ditampakkan oleh tingkat konsistensi pilihan karir dalam suatu periode tertentu.

Berdasarkan pada pendapat ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kematangan karir merupakan ketercapaian yang diperoleh individu dalam mencapai tugas perkembangan karir yang sesuai dengan tahap perkembangannya dimana saat itu masih dijalani. Serta individu tersebut dapat mengimplementasikan konsep dirinya ke dalam karir yang akan menjadi alat untuk berekspresi dirinya yang paling efisien.

Dengan ini maka kematangan karir dapat membekali individu untuk menjalani tahap-tahap perkembangannya. Kematangan karir secara spesifik berfungsi dalam :

  1. Dapat mengenal (mendeskripsikan) karakteristik diri (minat, nilai, kemampuan,   dan   ciriciri   kepribadian)   yang   darinya, individu dapat mengidentifikasi bidang studi dan karir yang sesuai dengan dirinya,
  2. Dapat memperoleh  pemahaman  terntang  berbagai  hal  terkait  dengan dunia (karir-studi) yang akan dimasukinya seperti tingkat keuasan karir yang ditawarkan, deskripsi tugas dalam berbagai bidang pekerjaan, pengeruh perkembangan teknologi terhadap bidang kerja tertentu, kontribusi yang dapat diberikan dalam bidang pekerjaan tertentu pada masyarakat, dan tuntutan kemampuan kerja dalam bidang-bidang pekerjaan tertentu di masa depan
  3. Mampu mengidentifikasi berbagai bidang pendidikan yag tersedia yang relevan dengan berbagai bidang pekerjaan. 
  4. Dapat   mengambil   keputusan   karir   bagi   dirinya   sendiri, merencanakan langkah-langkah konkrit untuk mewujudkan perencanaan karir yang realistik bagi dirinya. Perencanaan karir yang realistik akan meminimalkan faktor dan dampak negatif dan memaksimalkan faktor dan dampak positif dari proses pemilihan karir. 
  5. Dapat menyesuaikan diri dalam mengimplementasikan pilihannya dan berfungsi optimal dalam karir


Kepuasan/Kesuksesan Karir menurut Gender

Kepuasan kerja adalah bentuk perasaan dan ekspresi seseorang ketika dia mampu/tidak mampu memenuhi harapan dari proses kerja dan kinerjanya. Timbul dari proses transformasi emosi dan pikiran dirinya yang melahirkan sikap atau nilai terhadap sesuatu yang dikerjakan dan diperolehnya. 

Salah satu faktor yang berhubungan dengan kepuasan kerja adalah pandangan tentang makna kepuasan. Kepuasan dianggap sebagai sesuatu yang ukurannya relatif. Dua orang akan memiliki kepuasan kerja yang berbeda walaupun mengerjakan sesuatu yang sama dengan kinerja yang sama pula. Secara bathin kedua orang itu bisa saja memiliki kepuasan yang berbeda karena memiliki sudut pandang yang berbeda. Perbedaan sudut pandang biasanya searah dengan perbedaan tingkat strata sosial ekonomi seseorang, maupun gender.

Gender adalah perbedaan atau jenis kelamin yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan. Hal ini dikemukakan oleh Oakley (dalam Nurasih dan Respati, 2007) Perbedaan biologis berupa jenis kelamin merupakan kodrat Tuhan sedangkan gender terbentuk karena proses sosial dan budaya. Perbedaan peran gender yang selama ini berlangsung bukan disebabkan oleh adanya perbedaan nature antara pria dan wanita melainkan adanya budaya atau tradisi dan sesuatu yang nature tidak dapat berubah sedangkan peran gender dapat diubah dengan teknologi.

Sebuah studi dalam (Betz & Schifano, 2000) mengambil pendekatan yang lebih langsung untuk masalah ini dan diberikan intervensi "netral", atau  intervensi "Realistis"  "difokuskan pada bangunan, memperbaiki, dan kegiatan konstruksi" untuk 54 wanita sarjana . Para penulis menggunakan model untuk menunjukkan kegiatan, membujuk dan didukung, dan mempekerjakan strategi kecemasan manajemen dalam sesi tiga, tujuh jam upaya untuk meningkatkan minat. Wanita mempunyai peran yang cukup imbang dalam perwujudan pengembangan karir mereka, hal tersebut tidak dibatasi dalam dunia kerja saja seperti perkantoran, pabrik atau industry akan tetapi juga bisa dalam rumah tangga yang ikut andil sebagai tiang atau fondasi keluarga bahagia dunia dan akhirat.

DAFTAR PUSTAKA

Betz, N. & Schifano, R. 2000. Evaluation of an intervention to increase Realistic self-efficacy and interests in college students. Journal of Vocational Behavior, 56 , 35-52.

Dillard, J.M. 1985. Life Long Career Planning. Ohio: Charles E. Merrill Publishing Co.

Gibson, R.L. and Mitchell, M.H. 1995. Introduction to Counseling and Guidance. Fourth Edition. Englewood Cliffs, New Jersey : Merril

Munandir.1996. Program Bimbingan Karir di Sekolah.Jakarta : Depdikbud

Nurasih, Agustini Dyah Respati. 2007. Identifikasi Faktor-Faktor Diskriminasi Gender yang Mempengaruhi Karir Karyawan Wanita di Kota Yogyakarta. Yogyakarta ; Universitas Kristen Duta Wacana

Sharf Richard, S. 1992. Applying Career Development Theory to Counseling. California : Cole Publishing Company.

Surya, M. 1988. Dasar-Dasar Penyuluhan (Konseling). Jakarta : Depdikbud


SHARE THIS

Author:

Pendidikan : S1 BK, S2 BK. Pekerjaan : Dosen STMIK Pringsewu, Dosen Tamu BKI FDIK UIN Lampung. Keahlian : Model-model Konseling, BK Komprehensif, Konseling kelompok, Statistik Sosial

Previous Post
Next Post