Pemilihan Tes untuk Konseling

Review Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Testing Dalam Konseling Dosen Pengampu: Dr. Eddy Purwanto, M.Si. pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang 2013

Oleh:
1.    ISNI DHANIANTO
2.    HENDRA SULISTIAWAN


  
PEMILIHAN TES UNTUK KONSELING

A.  Pendahuluan
Bimbingan adalah merupakan suatu usaha bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapinya. Salah satu hal yang penting dalam memberikan bimbingan adalah memahami siswa secara keseluruhan, baik masalah yang dihadapi maupun latar belakangnya. Dengan demikian murid akan mendapatkan bantuan yang tepat dan terarah. Pemahaman murid ini merupakan salah satu langkah yang harus dilaksanakan oleh pembimbing.
Untuk dapat memahami murid dengan sebaik-baiknya maka pembimbing perlu sekali mengumpulkan berbagai keterangan atau data tentang masing-masing siswa. Data yang terkumpul akan menentukan tingkat pemahaman dan jenis bantuan yang akan diberikan. Oleh karena itu dalam rangka pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, pengumpulan data tentang murid merupakan salah satu program dan pelayanan bimbingan. Para Pembimbing harus melaksanakan pelayanan ini sebelum pelayanan yang lain dilaksanakan.
Jenis data yang dikumpulkan hendaknya meliputi berbagai aspek yang berhubungan dengan diri siswa. Teknik pengumpulan data untuk memahami siswa adalah Test Psikologis. Test psikologis digunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat potensial seperti : intelegensi, bakat, minat, kepribadian, sikap dan sebagainya. Untuk melaksanakannya dapat dipergunakan tes psikologis yang sudah tersedia. Oleh karena itu maka di dalam program bimbingan dan konseling sekolah harus melaksanakan program khusus. Program khusus dari seluruh program bimbingan pada umumnya meliputi : Program Testing.
B.  Pemilihan Tes sebagai Aspek dalam Proses Konseling
Perencanaan,seleksi,administrasi danpenilaiantesterkadangdirasa olehkonselorcukupterpisah dariporsinya sebagai proseskonselingyangmendahuluidan mengikutites.Seolah-olahtes adalahgangguandari proseskonseling, memakan banyak waktuuntuk mengumpulkan data secara mekanisdan objektif, sebelum kembali ke suatu hubunganyang lebihsarat akan pengaruh antara konselordan konseli. Akan tetapi jelasbahwa untukbanyak konseli,jika tidak semua,tes menjadi tidakobjektif.Pengalamantesdipenuhi denganemosi-emosiyangkonselimiliki kaitannya dengantujuan tes, ketikakonseli mengetahuinya.Misalnya, pertanyaannya adalah "dapatkah saya berhasil di perguruan tinggi X?",tes itu sendirikemungkinan akandipenuhi dengankualitasyang mengancam ketakutansiswaakan kegagalan.Dalamcara yang sama, konseliyangberada di bawah tekananorangtua untukmembuat keputusanyang berbedadarikeinginan mereka sendiri,mungkin saja memproyeksikankecemasannyake seluruh situasites.
Tidak mengherankan, bahwa konseli yang cemas dan merasa tidak amanbereaksi terhadaptes itu sendiri, dan bahkan terhadap sarankonselor dari suatu tes, dengan perilaku irrasionalseperti resistensi, rasionalisasi dan penarikan kembali. Bahkan ketikakonselimengungkapkansikapobjektifyang serupa dengankonselor, kita tidak bisa berasumsi bahwasikap-sikap inimewakiliperasaannyayang sebenarnya.Sesungguhnya, terkadangkonseliyang mengikutitestanpalangsung mengekspresikan kecemasannyadapatdiduga bahwa dia tidak benar-benarmembiarkandirinyaterlibat.Seolah-olahancaman itubegitu besar sehinggaditolaksepenuhnya.Lagipula, jika seseorang mencari bantuankonselingdalam perencanaankarir, memilih sekolahmaupun perguruan tinggi,membuatpenyesuaianyang lebih baik terhadap sekolah ataupekerjaan, hal itu normal untuk merasasetidaknyasedikit kecemasantentang indikasi apa yang akan dihasilkan oleh tes itu terhadap kemampuan,minat dankepribadian seseorang.
Kesenjangan antara tes dan konseling adalah hal yang sangat perlu diperhatikan oleh konselor dimana konselor mengadakan tes sebagai bagian dari hubungan konseling dengan para konselinya, yang mana hal tersebut mungkin bukan hal yang dialami kebanyakan pengguna tes konseling. Di sekolah-sekolah, kebanyakan tes diadakan terlebih dahulu sebelum konseling yang kemudian hasilnya digunakan sebagai dasar untuk konseling tersebut. Biasanya tes tersebut diadakan bukan oleh konselor, melainkan oleh guru sekolah tersebut. Sedangkan di lembaga- lembaga konseling yang lebih besar, baik perguruan-perguruan tinggi maupun institusi-institusi konseling biasanya tes dilakukan oleh psychometristdimana seringkali konselor akan melakukan interupsi terhadap konselinya selama kurun waktu beberapa hari atau minggu. Secara singkat berbagai macam elemen dari tes, termasuk didalamnya pemilihan tes, harus diperhatikan pula bahwa prinsip- prinsip dasar yang sama berlaku bagi seluruh aktivitas konseling. Tyler (Goldman, 1961: 41) telah  meringkasnya menjadi pemahaman terhadap konseli, penerimaan konseli dan persepsinya, tulus, berkomunikasi, memahami dan menerima.
Namun demikian, pada pemilihan tes dibutuhkan lebih dari sekedar pengaplikasian prinsip-prinsip umum saja, yang mana hal itu disebut sebagai proses atau aspek dari pemilihan tes yang membahas mengenai isi dari sebuah tes. Tes-tes tersebut dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, menyediakan informasi ataupun melakukan tindakan apapun untuk mendapat informasi yang menyeluruh. Tujuan ganda dari tes yaitu: pertama memilih isi tes yang sesuai dengan tujuan khusus diadakannya tes tersebut; kedua memilih dan merencanakan tes tersebut sedemikian rupa sehingga akan menjadi tes yang memberi kontribusi besar bagi konseli.
Dalam proses tes tersebut, meskipun hal-hal mengenai “apa” dan “bagaimana” adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pengoperasiannya (bagaikan kabel dan aliran listrik yang mengalir melalui kabel tersebut) namun demikian akan menjadi sangat bermanfaat jika dua hal tersebut dipelajari secara terpisah, seperti halnya kabel dan aliran listrik yang dapat dipelajari sendiri-sendiri. Pada kasus pemilihan tes, isi dan proses, masing-masing memiliki tingkat keunikan dalam hal metode dan sumber-sumber yang digunakan, pelatihan dan kompetensi yang diperlukan, dan problem-problem khusus.
C.  Partisipasi Klien dalam Pemilihan Tes
Kesadaran terhadap aspek proses dari keseluruhan pemilihan tes nampaknya merupakan hal pertama dari sebuah kontribusi Carl Rogers (Goldman, 1971) dimana hal-hal lainnya kemudian distimulasi oleh ide-idenya. Bagi beberapa konselor, persepsi mereka tentang teori “client centered” membawa konselor menuju gambaran-gambaran bahwa tes sebagai bagian dari konseling (seringkali banyak konselor mengalihkan fokus mereka dari hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan pekerjaan kepada hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal pribadi dan sosial). Teori client centered dalam konseling secara umum telah memikat ketertarikan dalam proses pemilihan tes dan secara khusus pada apa yang dimaksud dengan “partisipasi klien” dalam proses konseling. Namun demikian pada beberapa tahun yang lalu, Bordin and Bixer (dalam Goldman, 1971) menganalisis psikologi dari pemilihan tes serta menyarankan diperlukannya penelitian yang berkesinambungan tentang hal tersebut, yang mana laporan-laporan aktual yang terpublikasi mengenai penelitian empiris yang dihasilkan sangatlah sedikit, Seeman, 1948, 1949; Gustad dan Tuma, 1975; Strange, 1953; Tuma dan Gustad, 1975; Forgy dan Black, 1945 (dalam Goldman, 1971) sedangkan   hasilnya tidaklah terlalu meyakinkan. Hal-hal yang pertama disajikan adalah analisis teoretis dari proses pemilihan tes, yang akan menekankan pada partisipasi klien, lalu kemudian meninjau ulang penelitian-penelitian yang telah dipublikasikan yang bersangkutan pada topik tersebut.
1.    Beberapa Argumen yang Memandang  Perlunya Keikutsertaan Klien
a.    Klien mungkin tidak akan mengikuti interview lebih lanjut bila tes dirancang tanpa partisipasi aktif klien.
b.    Klien yang yakin terhadap tujuan dari tes, akan memperoleh wawasan yang didapat dari observasi diri sendiri selama tes berlangsung.
c.    Motivasi untuk melakukan yang terbaik akan menjadi lebih kuat ketika klien melihat keterkaitan hubungan antar dirinya dan tujuan yang dituju.
d.   Pada taraf dimana klien berpartisipasi dalam memutuskan penggunaan tes, klien akan menjadi lebih siap menerima penilaian-penilaian dengan tanpa banyak pembelaan diri (menerima dengan lebih ikhlas).
e.    Ketika ketergantungan menjadi permasalahan, adalah tanggung jawab konselor secara menyeluruh untuk perencanaan tes yang berkaitan dengan penanggulangan masalah ketergantungan tersebut atau mungkin untuk memperkuatnya.
f.     Ketika keraguan menjadi permasalahan, dimana klien takut memutuskan yang dapat diakibatkan oleh kurangnya percaya diri dalam menilai atau mungkin disebabkan kurangnya pengalaman dalam sukses membuat keputusan maka diperlukan pengalaman dalam membuat keputusan.
g.    Sensitivitas konselor akan keterbukaan terhadap sesuatu, seperti halnya bakat ilmiah seringkali dapat membawa kepada pengujian yang lebih terbuka dan bermanfaat.
h.    Akhirnya pelaksanaan pemilihan tes dapat diselesaikan dengan lebih baik, dengan memberikan klien kesempatan yang cukup dalam mengekspresikan opini-opini mereka mengenai tes, dimana konselor dapat menguji hipotesisnya terhadap informasi yang dibutuhkan.
2.    Beberapa Argumen yang Tidak Setuju dengan Keikutsertaan Klien
a.    Keikutsertaan klien tidak memberikan perbedaan hasil yang signifikan.
b.    Diperlukan kompetensi dan kemampuan klien untuk ikut berperan serta, yang mana tidak seluruh klien memiliki hal tersebut, sehingga alangkah lebih baik jika konselor sendiri yang menentukan.
c.    Klien akan terlalu emosional jika terlibat sehingga akan kesulitan mengambil keputusan.
d.   Konselor tidak perlu berurusan dengan ketergantungan dan keraguan, seperti halnya pada kasus psikoterapi.
3.      Hipotesis dan Penelitian pada Keikutsertaan Klien
a.   Keikutsertaan Klien pada Perencanaan Tes
1)      Tingkat kembalinya klien untuk mengikuti interview lanjutan lebih tinggi.
2)      Hasil membuktikan, saat mengikuti tes, klien dapat mengenali dirinya sendiri lebih dalam.
3)      Meningkatkan motivasi untuk melakukan tes-tes tentang kemampuan diri dengan lebih baik, memberi respon dengan sungguh-sungguh dan akurat terhadap minat dan kepribadian klien.
4)      Selama proses interview berlangsung, klien dapat dengan lebih mudah menerima hasil penilaian tentang dirinya tanpa banyak membela diri.
5)      Mengurangi ketergantungan yang dapat menimbulkan permasalahan.
6)      Memperkecil keragu-raguan yang dapat menimbulkan permasalahan.
7)      Hasil dari keseluruhan proses konseling menunjukkan bahwa klien dapat mengenali dirinya dengan lebih dalam lagi.
8)      Melengkapi data diagnostik tambahan bagi konselor.
9)      Mempermudah pemilihan tes yang lebih tepat, karena klien membantu konselor memahami akan apa yang telah diketahui oleh klien tentang dirinya, apa yang klien ingin dan perlu diketahui.
b.   Pengujian Hipotesis (oleh Penulis-Goldman)
1)      Ketika metode dan interpretasi pemilihan tes yang sama digunakan oleh konselor yang berbeda, perbedaan-perbedaan hasil yang signifikan tentang pembelajaran diri yang ditunjukkan oleh grup-grup konseli.
2)      Ada hubungan yang sistematik dalam situasi konseling antara kelompok klien tentang pembelajaran diri sendiri, dan kesamaan konselor-klien pada ciri-ciri kepribadian yang dipilih.
4.      Implikasi Penelitian
Kita tidak dapat bergantung pada keterangan dari penelitian yang telah ada sebagai petunjuk pemilihan tes dalam konseling, meskipun pada dasarnya sangat membantu dalam menyatakan pentingnya konselor sebagai variabel dalam penelitian. Nampaknya pada dasarnya tidak ada dan tidak akan pernah ada metode yang terbaik dalam pemilihan tes. Yang ada adalah penelitian selanjutnya akan mengevaluasi bermacam-macam metode pemilihan tes dalam kaitanya dengan relevansi karakteristik konselor dan para kliennya. Studi-studi mungkin akan membawa pada pengembangan instrumen-instrumen yang akan mencirikan tiap-tiap konselor, yang akan menyediakan metode-metode dasar untuk mengidentifikasi metode-metode yang secara umum efektif digunakan untuk kasus-kasus tertentu.
D.  Metode Pemilihan Tes
Karena penelitian telah membuat kontribusi yang terbatas di dalam area pemilihan tes, kita harus menarik dengan kuat pada teori, logika dan akumulasi pengalaman konselor. Keuntungan dari melibatkan klien dalam proses meliputi: (1) penurunan resistensi/perlawanan klien pada tes itu sendiri dan pada hasilnya; (2) memungkinkan pemilihan tes yang lebih tepat; (3) perkembangan klien terhadap ketegasan dan kemandirian; (4) peningkatan pemahaman diri klien melalui pengambilan tes itu sendiri melalui keseluruhan proses konseling; (5) kesempatan yang lebih besar bagi konselor mempelajari kliennya melalui diskusi dari tes yang tepat.
1.    Konselor
Konselor dan kepribadiannya, nampaknya menjadi faktor utama dalam menentukan keefektifan dari pendekatan khusus terhadap pemilihan tes. Keyakinan dasar konselor dalam pemilihan tes nampaknya menjadi elemen yang paling kritis. Bordin (1955) menyarankan bahwa pengetahuan konselor terhadap tes dan perasaan nyaman terhadap tes tersebut diperlukan bagi ketrampilan konselor dalam menjalankan pemilihan tes, tetapi pengetahuan konselor yang tidak memadai akan membawa pada pemilihan tes yang gegabah sehingga memberikan kesempatan yang tidak memadai bagi klien untuk dapat sungguh-sungguh berpartisipasi.
2.    Klien
Pada umumya para klien, terlebih lagi siswa sekolah anak-anak dan dewasa cenderung untuk melihat konselor sebagai figur berotoritas yang memiliki kebijaksanaan dan kekuatan.
E.  Prinsip- prinsip Pemilihan Tes
1.    Penstrukturan
Konselor harus mengkomunikasikan kepada kliennya prosedur dan aturan dasar yang akan diambil, dalam hal ini konselor harus dapat menemukan cara yang efektif, nyaman dan asli yang tepat untuk dijalankan
2.    Klien tidak Menentukan Tes-tes Tertentu
Jika konselor dapat memperkirakan tingkah laku serta menggambarkan klien dengan lebih baik dibanding apa yang tes dapat lakukan, konselor mungkin merasa tidak perlu untuk berdiskusi dengan klien untuk mengetahui karakteristiknya. Kasus klien memilih tes yang diambil kadangkala menjadi keputusan terakhir yang terdengar aneh ketika konselor tidak tahu tes mana yang terbaik untuk diambil.
Pendekatan yang bagi konselor nampak cukup pantas adalah dengan meminta klien berpartisipasi dalam alternatitf program tindakan dan pertanyaan yang spesifik tentang alternatif-alternatif. Konselor kemudian mengindikasi tes yang dapat memberikan jawaban yang natural. Klien dapat berpartisipasi dalam memutuskan apakah pertanyan tersebut merupakan pertanyaan yang ingin dia jawab, kemudian klien dapat berpartisipasi dalam memikirkan apakah ia dapat menjawab pertanyaan itu, dalam ingatannya tersedia jawaban dari pertanyaan itu, atau kemudian memilih pertanyaan yang lain yang lebih tepat baginya. Kesimpulannya, apakah konselor meminta atau tidak meminta kliennya untuk betpartisipasi dalam mengeksplorasi karakteristiknya, adalah tanggung jawab konselor untuk menentukan tes yang tepat.
3.    Fleksibilitas
Konseli jarang sekali mengutarakan ide dan perasaan yang konsisten dan teratur selama perencanaan tes maupun interview. Untuk memperoleh berbagai kemungkinan dalam interview diperlukan usaha untuk merasakan reaksi klien dan bergerak mengikuti reaksi tersebut.
4.    Miscellaneous
a.    Pernyataan klien diawal tentang keinginannya menjalani tes tidak perlu dianggap sebagai informasi yang penting.
b.    Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Setelah melalui tes tersebut sangat mungkin didapatkan hasil konseling yang mendekati sempurna ketimbang diawal pertengahan konseling.
c.    Seluruh sumber data yang ada harus dieksplorasi. Prinsip dasar dari teori informasi adalah terus menambah informasi sampai sesuatu informasi yang baru didapat.
Bagi konselor sekolah maupun perguruan tinggi yang telah memiliki informasi tertentu tentang kliennya, hal terbaik yang ia bisa lakukan adalah mengkomunikasikan pemikirannya yang terbuka dan menggunakan informasi yang ada hanya jika klien siap menerimannya. Dalam situasi apapun, konselor harus memilih antara berusaha memperoleh informasi yang bersifat diagnostik tentang kliennya atau menjaga hubungan yang nyaman dengan kliennya dimana klien tidak merasa terganggu. Berusaha memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang rekam jejak sekolah klien dapat menyebabkan menurunnya partisipasi, percaya diri serta independensi klien. Konselor harus dapat beradaptasi secara efektif dengan area dimana dia bisa memperoleh informasi dari kliennya.
F.   Faktor-faktordalamPemlihanTes
Terdapatbeberapa factor yang perludipertimbangkandalampemilihantes Goldman (1971 : 81-90) menyebutkan diantaranya:
1.      Reliabilitas
Reliabilitas dapat digunakan bervariasi terhadap umur sempel, level pendidikan mereka, motivasi dll. Statistik dalam reliabilitas dapat dikerjakan dalam kelompok.
2.      Validitas
Memiliki 4 tipe umum:
a.       Isi
b.      Prediksi
c.       Concurrent
d.      Konstruk
3.      Norma
Susah untuk mengevaluasi komparabilitas suatu set dari norma.
4.      Umur
Biasanya umur klien sebagai faktor dipertimbangkan dengan menggunakan norma yang tepat. Ada 2 masalah utama dalam menggunakan norma yaitu: pertama anak muda yang mempertimbangkan latihan untuk yang masa akan datang. Selanjutnya konseling dengan klien yang lebih tua mempertimbangkan tentang perubahan pekerjaannya.
5.      Pengalaman sebelumnya
Peranan pengalaman sebelumnya kurang jelas dalam tes bakat dan minat.
6.      Tingkat membaca
Batas sesuatu kekurangan membaca memngganggu kinerjanya pada tes dimana tidak dimaksudkan dalam cara mengungkur kemampuan membaca, seorang konseli tidak diukur secara cukup.
7.      Kecepatan
Reverensi sudah siap dibuat untuk menurunkan kinerja kecepatan tes yang dikaitkan dengan umur.
8.      Kertas dan pencil Vs aparat test
Apparatus tes digunakan ketika tidak nyaman dengan kertas dan pensil, mungkin dikarenakan pengalaman.
9.      Tes individu Vs tes kelompok
Setiap tes bisa diadministrasikan secara individual ketika hal tersebut penting untung mengobservasi perilaku secara tertutup atau ketika individu mengambilnya karena mereka tidak berfungsi dalam situasi testing kelompok dikarenakan oleh tegangan atau faktor-faktor lain.
10.  Waktu yang dibutuhkan
Klien kadang-kadang membatasi waktu tes karena biaya, hal ini biasanya terjadi pada agensi. Materi tes sering harus menggunakan batas waktu karena kasus konselor yang begitu berat.
11.  Cacat
Beberapa jenis kecacatan mempengaruhi perilaku tes.

G. Pelaksanaan dan Penafsiran Tes
Kritik utama yang diarahkan pada penggunaan tes dalam konseling terfokus pada pelaksanaan dan interpretasi/penafsiran. Proses pelaksanaan tes diuraikan dalam buku panduan yang mendampingi masing-masing tes dan kebanyakan tes menyebutkan prosedur yang seragam yang harus dipatuhi pada setiap langkah, mulai dari mempersiapkan ruangan hingga pemberian instruksi. Beberapa tes mempunyai instruksi khusus yang harus diikuti konselor jika menginginkan hasil tes yang absah.
Setelah tes dipilih, dilaksanakan dan dinilai, konselor perlu menafsirkan hasilnya bagi populasi yang dites tersebut dengan cara yang mudah dipahami. Empat interpretasi dasar yang dapat membantu penerima tes, bergantung pada tes yang diberikan, antara lain:
1.    Interpretasi deskriptif, yang memberikan informasi mengenai status terkini dari penerima tes.
2.    Interpretasi genetik, yang berfokus pada bagaimana orang yang dites menjadi dirinya sekarang.
3.    Interpretasi prediktif, yang berfokus pada meramalkan masa depan.
4.    Interpretasi evaluatif, yang melibatkan rekomendasi oleh penafsir tes.
Sayangnya, beberapa konselor tidak berhasil melaksanakan atau menafsirkan tes. Penyalahgunaan terjadi pada tiga bidang dasar pengetesan, penggunaan, pendidikan dan klinikal. Penyalahgunaan dapat terjadi akibat pelaksanaan dan penafsiran tes yang salah atau memberikan tes tersebut pada orang yang salah atas alasan yang salah.
Dengan mempertahankan kondisi baku saat tes dilaksanakan, dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan norma-norma, reliabilitas dan keabsahan instrumen tertentu dan dengan menerjemahkan data mentah tes menjadi deskripsi yang berarti tentang perilaku terkini atau yang diperkirakan, konselor memastikan bahwa tes tersebut dipilih untuk meningkatkan kesejahteraan kliennya.
Kapan tes berakhir? Berbagai macam pendekatan dapat digolongkan menjadi beberapa kategori di bawah ini:
1.    Uniform Battery (deret keseragaman). Seluruh konseli mengambil group test yang sama yang mana di agensi-agensi biasanya lebih natural, meliputi bakat khusus, minat dan kepribadian. Di sekolah kemiripan keseragaman biasanya muncul.
2.    Individualized Battery(deret individu).Tes dilaksanakan bersama-sama dalam satu kelompok namun tidak harus tes yang sama yang diberikan kepada seluruh konseli yang menjalani tes. Tes merupakan pendekatan yang berkesinambungan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu pesertanya, karakteristik dan ekspektasi tujuan.
3.    Preliminary Screening Battery and Sequential Testing(deret penyaringan awal dan tes yang berkesinambungan). Pendekatan ini telah dicoba antara Uniform dan Individualized Battery, dan merupakan kompromi dari kedua pendekatan tersebut. Tes umum seperti tes intelegensi dan minat diberikan terlebih dahulu, kemudian secara sendiri-sendiri konselor dan klien memilih tes dengan pendekatan Individualized Battery.
4.    As-needed(sesuai kebutuhan). Dalam pendekatan yang digambarkan oleh Super (1950), tes digunakan dengan lebih dinamis dan terjalin dengan jelas dengan proses konseling yang sedang berlangsung dibanding dengan pendekatan lainnya.
H.  Program Tes Kelompok
Pada awal, prinsip- prinsip dan prosedur sepertinya tidak aplikatif untuk situasi dimana tes diperuntukkan untuk kelompok daripada untuk individu. Pada perguruan tinggi contohnya, mahasiswa baru mengambil deretan tes: tes akademik, bakat, membaca secara komprehensif, walaupun nampaknya hampir tidak ada yang memiliki ketertarikan mengambil tes tersebut. Hal yang sama terjadi pula di level sekolah menengah. Kita harus mempertanyakan: pertama, apakah betul-betul butuh diadakan tes yang sama untuk kelompok yang sama dengan cara tersebut? kedua, dalam situasi yang demikian, dimana tidak ada alternatif lain, apakah elemen partisipasi klien dapat diperkenalkan? Pendapat kita pada pertanyaan pertama seringkali “ya” dan untuk pertanyaan kedua “tidak”.
1.    Apakah Tes yang Seragam Dibutuhkan?
Ada paling tidak dua alasan diberikannya tes yang sama untuk seluruh murid. Pertama, memungkinkan pengembangan norma lokal dan studi keabsahan lokal seperti data bagi tujuan penelitian lain. Kedua, dapat menghemat waktu administrasi dan scoring test. Namun seringkali dengan jumlah siswa yang menjalani tes yang tidak diketahui berapa jumlah pesertanya dengan kerangka berfikir mereka, dapat menyebabkan tidak kondusif bagi pengukuran kemampuan, minat dan kepribadian.
2.    Dapatkah Program Tes Kelompok Ditingkatkan?
Banyak institusi telah menyadari kekurangan dari program tes massal, dan beberapa dari mereka telah berusaha untuk memperbaiki situasi tersebut. Karena minimnya catatan tentang usaha perbaikan tersebut, maka kita harus berurusan secara esensial dengan impresi dari kontak langsung. Biasanya upaya yang sering dilakukan adalah dengan pertenuan kelompok terlebih dahulu sebelum diadakan tes dalam rangka untuk meningkatkan motivasi dan mengurangi kecemasan yang tidak perlu. Metode ini akan berjalan efektif bila waktu yang dialokasikan cukup dan jumlah pesertanya tidak terlalu banyak sehingga tidak terjadi kemungkinan hanya penceramah saja yang berbicara.
Beberapa konselor mungkin peduli bahwa mereka yang paling membutuhkan tes adalah mereka yang paling akhir meminta tes tersebut, hal ini merefleksikan sikap protektif dan manipulatif yang sulit untuk sesuai dengan filosofi bimbingan. Terlebih lagi ketika seseorang tidak ingin dibantu maka tes yang seperti paksaan tersebut akan berdampak pada pemikiran dan perencanaan konseli. Konselor sekolah maupun perguruan tinggi yang mengganti program tes massal yang seperti memaksa dengan metode yang lebih individual dimana hanya yang merasa membutuhkan tes saja yang mengambil tes tersebut, maka tes tersebut akan menjadi program yang lebih bermanfaat.
I.         Simpulan (Pemilihan Tes: Menyesuaikan Klien dan Karakteristik Tes)
Seperti telah disampaikan sebelumnya, proses tes akan menjadi lebih bermanfaat dan efektif setelah eksplorasi yang cukup terhadap seberapa besar kebutuhan konseli akan tes dan dengan partisipasi maksimal dari konseli, sehingga setiap tes memiliki tujuan masing-masing dalam pikiran konselor dan konseli. Walau mungkin hasil tes hanyalah merupakan pengurangan ketidakpastian atau perubahan utama konsep diri atau tujuan akhir, konselor juga harus menganggap perubahan sebagai hasil tes. Perubahan akan sering terjadi bila tes digunakan secara sengaja dengan mempertimbangkan partisipasi serta keterlibatan konseli bagi keuntungan mereka.
Setelah mendefinisikan tujuan dari tes untuk konseli maupun kelompok tertentu, selanjutnya informasi spesifik dicari dan akhirnya data yang tersedia dicek. Beberapa konselor nampaknya menggunakan beberapa tes yang berbeda yang mana hal tersebut baik diterapkan di sekolah maupun institusi lainnya dimana pendekatan tes massal umum digunakan. Ada juga kecenderungan konselor menggunakan tes yang sudah mereka ketahui dan enggan menggunakan tes yang baru dan berbeda. Kelemahan untuk berubah nampaknya disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, orang umumnya belajar jumlah tes secara terbatas selama studi sarjananya, karena pengajar hanya mengajarkan yang mereka ketahui dan yang paling mereka sukai. Kedua, pengalaman menggunakan tes yang hasilnya bermanfaat meningkatkan kemampuan seseorang, kemudian tes tersebut selalu digunakan. Ketiga, seringkali sulit bagi kebanyakan praktisi untuk mengikuti publikasi dari tes-tes baru dan pengesahan data untuk tes-tes baru tersebut. Rata- rata konselor tidak memiliki dasar yang memenuhi syarat untuk menilai tes-tes baru setelah lebih dari 5 tahun penerbitan, yang mana hal tersebut merupakan waktu untuk menyajikan evaluasi yang cukup lengkap bagi buku teks dan karya ilmiah lainnya. Pada akhirnya untuk mempelajari tes dibutuhkan pengawasan ahlinya, atau paling tidak melalui diskusi yang panjang dengan konselor lainnya. Banyak sekali praktisi yang tidak mendapatkan akses ke sumber-sumber yang dapat membantu.


DAFTAR PUSTAKA


Goldman, L. (1971). Using Test in Counseling. New York: Meredith Corporation.


SHARE THIS

Author:

Pendidikan : S1 BK, S2 BK. Pekerjaan : Dosen STMIK Pringsewu, Dosen Tamu BKI FDIK UIN Lampung. Keahlian : Model-model Konseling, BK Komprehensif, Konseling kelompok, Statistik Sosial

Previous Post
Next Post