EKSISTENSIALISME Rollo May

A.    Pengantar
 
Eksistensialisme dan psikoanalisis tumbuh dari situasi budaya yang sama. Keduanya berusaha memahami kecemasan, keputusasaan, keterasingan dan keterpisahan dari diri sendiri dan masyarakat yang disebabkan oleh kecenderungan yang kuat untuk menjadikan manusia layaknya sebuah mesin. Manusia seolah-olah berada dalam suatu sistem industri, tempat mereka bekerja.
 
Segmentasi budaya ini memiliki mitra psikologis dalam bentuk represi yang ekstrim dalam diri individu. Freud adalah orang yang banyak membahas dan membantu proses penyembuhan masalah represi. Represi merupakan masalah yang lebih mendalam dibandingkan dengan neurotik. Kierkergaard, Nietzsche dan pelopor eksistensialis meramalkan bahwa kekuatan-kekuatan disintegrasi secara bertahap menghancurkan emosionalitas dan spiritualitas kehidupan manusia dan menyebabkan keputusasaan dan keterasingan dari diri sendiri dan masyarakat.
 
Rollo May adalah orang yang berusaha menyatukan tradisi psikoanalisis dalam psikologi dengan gerakan dalam filsafat eksistensialisme yang karya-karyanya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Freud. Dalam menggabungkan wawasan psikoanalisis dan eksistensialisme, May tidak hanya memperjelas relcvansi dari kontribusi Freud, tetapi ia juga mengembangkan pandangan originalnya sendiri, yaitu penekanan akan pentingnya filsafat dan pemahaman nilai-nilai dalam teori kepribadian

B.    Biografi Singkat Rollo May
 
Rollo May lahir pada 21 April 1909 di Ohio dan dibesarkan di Marine City, Michigan, Amerika Serikat. Ia hidup ditengah sikap anti-intelektual dari sang ayah. Ayahnya berkali-kali berkomentar bahwa gangguan psikotik yang dialami oleh kakak Rollo adalah karena terlalu banyak belajar. Mungkin karena merasa bahwa pernyataan ayahnya "tidak manusiawi dan merusak", ia pun membenci penyakit anti-intelektualisme, meskipun ia melihat bahwa untuk hal-hal lain ayahnya adalah laki-laki yang sangat simpatik.
 
Setelah lulus dari Oberlin College di Ohio, dia menyelesaikan BA (Bachelor of Arts = sarjana muda) pada tahun 1930. Ada sebuah pengalaman unik yang begitu mendalam, yaitu ketika melihat garis-garis sederhana pada sebuah vas bunga antik dari Yunani yang ada di atas meja pada salah satu ruang kelas, ia begitu kagum dengan kesederhanaan dan keindahan garis-garis tersebut. Pengalaman tersebut membuatnya memutuskan untuk datang ke Yunani setelah lulus kuliah. Dia bekerja di Yunani selama tiga tahun, mengajar di Anatolia College di Salonika dan banyak bepergian selama musim panas. Dia menghabiskan dua musim panas dengan sekelompok seniman moderen di sana dan belajar melukis. Pengalamannya selama di Yunani membuatnya terpengaruh oleh filsafat dan mitologi Yunani, terutama terlihat dalam berbagai tulisannya. Sepulang dari Yunani, ia kemudian pergi ke Wina untuk belajar psikonalisis kepada Alfred Adler.
 
May adalah orang yang menolak pandangan Eropa, yang menurutnya terlalu mekanistik dalam memandang manusia, meskipun sebelumnya ia sendiri merupakan orang yang menerima konsep tersebut. Rollo May kemudian belajar di Seminari TeologiUnion di New York, bukan karena ingin menjadi pendeta, melainkan hanya ingin mendapatkan beberapa jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganggunya. Pertanyaan yang dimaksud adalah mengenai makna putus asa, bunuh diri dan kegelisahan, yang semuanya merupakan isu-isu yang sering diabaikan oleh para ahli psikologi. Dia juga berharap bahwa bisa belajar dengan rekan-rekan yang lain mengenai keberanian, kegembiraan dan intensitas hidup. Di Union, ia membangun persahabatan seumur hidup dengan teolog Protestan terkemuka, Paul Tillich, sebuah ikatan yang memperkaya kehidupan, pekerjaan dan tulisan-tulisan mereka berdua. Buku pertama yang ditulisnya selama di Union adalah The Art of Counseling.
 
Ketika orang tuanya bercerai, May masih di Union, ia pun menyela studinya untuk kembali ke East Lansing, Michigan. Di sana, ia menjadi konselor sekolah di Michigan State College. Ia kemudian kembali ke New York dan melanjutkan studinya sampai mendapat gelar BD pada tahun 1938. Setelah itu, May menjadi menteri di Paroki Montclair, New Jersey, sebelum kembali ke New York untuk belajar psikoanalisis di William White Alanson Institute for Psychiatry. Ia juga kuliah di Columbia University pada tingkat doktoral (S3) dan mendapat gelar Ph.D pertama dalam bidang psikologi klinis.
C.    Manusia dalam Pandangan Rollo May
 
Rollo May mengembangkan pemahaman manusia yang didasarkan pada eksistensialisme. Penjelasan manusia didasarkan kepada pertanyaan "Apa artinya menjadi diri sendiri?" Ini merupakan pertanyaan mengenai tujuan dan hakikat keberadaan dan merupakan tinjauan individual. Manusia sebagai agen dengan pilihan bebas yang bertanggung jawab atas tindakan sendiri. Masing-masing dari kita mengukir nasib sendiri, "Kita adalah apa yang kita lakukan". Postur yang eksistentialis mengarahkan untuk membuat pilihan yang bertanggung jawab dan pandangan bahwa kehidupan yang layak adalah yang otentik, jujur dan tulus.

Secara umum, pandangan Rollo May mengenai manusia terangkum dalam pandangan ontologisnva mengenai individu. Menurut May, setiap ahli psikologi yang mempelajari perilaku manusia seharusnya bertanya mengenai sifat terbaik sebagai seorang pribadi dan bagaimana kita dapat menjelaskan eksistensi terbaik dari manusia?
 
May terus mengakui bahwa ia membuat beberapa asumsi ontologis dan filosofis tentang apa artinya menjadi seorang manusia. Pertama, ia menganggap bahwa semua organisme hidup berpotensi berpusat pada diri sendiri dan berusaha untuk mempertahankan pusat itu. Dalam psikoterapi, pasien yang terlibat dalam upaya tersebut. Kedua, manusia memiliki kebutuhan dan kemungkinan akan keluar dari keterpusatan untuk berpartisipasi dengan orang lain. Ini mencakup risiko. Ilustrasinya dalam psikoterapi adalah ketika berjumpa dengan terapis. Ketiga, May menunjukkan bahwa penyakit adalah sebuah metode untuk seorang individu agar berusaha mempertahankan dirinya untuk menjadi, sebuah strategi untuk bertahan hidup, walaupun metode tersebut dapat membatasi dan menutup potensinya untuk mengembangkan pengetahuan dan tindakannya. May menegaskan bahwa manusia dapat berpartisipasi dalam tingkat self-consciousness, yang memungkinkan mereka untuk mengatasi situasi yang mendesak, serta mempertimbangkan dan mengaktualisasikan diri yang lebih luas. Asumsi ontologis ini dapat memberikan kita dasar struktural ilmu kepribadian. Mereka mendahului aktivitas analisis, dan pada gilirannya, kegiatan analisis dapat membantu kita untuk menerangi mereka.
 
Konsep psikologis harus berorientasi dalam kerangka kerja ontologis. Jadi, May menunjukkan bahwa konsep pengalaman tak sadar dapat dipahami dalam bentuk penipuan terhadap diri sendiri dan pengalaman, sehingga seseorang tidak dapat aktual.

D.    Konsep Utama Eksistensialisme
 
Beberapa konsep utama yang dikembangkan oleh Rollo May adalah sebagai berikut.
1. Sikap Eksistensial
Eksistensialisme adalah gerakan filsafat dan psikologi kontemporer di antara berbagai mazhab pemikiran yang muncul secara spontan di Eropa. Gerakan ini berakar dari gerakan-gerakan perlawanan selama Perang Dunia II yang dikembangkan oleh beberapa filosof, seperti S0ren Kierkegaard (1813-1855), Martin Heidegger (1889-1976) dan Jean Paul Sartre (1905-1980). Nama eksistensialisme berasrl dari bahasa Latin exsistere, yang berarti berdiri keluar atau muncul. Pendekatan eksistensial memfokuskan pada manusia ketika ia muncul dan menjadi sesuatu.
 
Di masa lalu, filsafat Barat secara tradisional berusaha mencari hakikat ini, prinsip-prinsip yang tidak berubah serta hukum yang mengatur eksistensi. Bentuk paling murni dari pendekatan tersebut adalah matematika. Dalam psikologi, sikap para eksistensialis berupaya untuk memahami kekuatan, drive, dan kondisi refleks manusia. Eksistensialisme menunjukkan bahwa sebuah hukum harus benar dan nyata. "Dua kuda terbang ditambah dua kuda terbang sama dengan empat kuda terbang" adalah suatu pernyataan "benar" secara logika, tetapi bukan sesuatu yang nyata. Eksistensialisme berusaha untuk menjembatani kesenjangan antara apa yang benar secara abstrak dan apa yang eksis secara nyata.

2. Keadaan Sulit (Predicament)
Menurut May, masalah utama yang dihadapi manusia pada pertengahan abad ke-20 adalah perasaan tidak berdaya, "keyakinan bahwa individu tidak dapat berbuat secara efektif dalam menghadapi masalah yang sangat besar dalam budaya, sosial,dan ekonomi". Perasaan tak berdaya ini disebabkan oleh kecemasan dan hilangnya nilai-nilai tradisional.
 
3. Ketidakberdayaan
Masalah ketidakberdayaan sekarang sudah makin nyata. Zaman ini dianggap sebagai/aman ketidakpastian dan gejolak sosial. Kerusuhan yang berkelanjutan di Timur Tengah, menggambarkan bahwa kita terjebak dalam siluasi sejarah, yang tidak ada seorang pun atau sekelompok orang memiliki kekuasaan yang signifikan. Kita mendengar bahwa perang dingin berakhir, namun dunia lampak tidak aman. Negara maju sering bertindak seolab-olah tidak ada masalah di negara berkembang....

44. Kecemasan
Kecemasan menjadi istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan zaman kegelisahan. Sebelum tahun 1950, hanya ada dua buku yang secara khusus menampilkan gambaran yang objektif mengenai kecemasan dan menyarankan cara-cara yang konstruktif untuk menanganinya. Masalah kecemasan yang ditulis Freud dan konsep tentang kecemasan dari Kierkegaard. Setelah May menulis The Meaning of Anxiety, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1950, ratusan topik sejenis kemudian mengikuti...

5. Nilai yang Hilang
Menurut May, sumber masalah yang kita alami sekarang (di dunia Barat) ini terletak pada hilangnya pusat nilai-nilai dalam masyarakat kita. Sejak zaman renaissance, nilai dominan dalarn masyarakat Barat makin kompetitif. Prestise diukur dari pekerjaan dan kesuksesan finansial. Padahal nilai-nilai tersebut tidak lagi efektif dalam dunia postmodern, karena kita harus belajar untuk bekerja dengan orang lain agar dapat bertahan hidup. Persaingan individu tidak lagi memberikan kebaikan untuk diri sendiri ataupun bagi masyarakat, bahkan justru menimbulkan banyak masalah yang sebelumnya tidak ada.

6. Menemukan Kembali (Rediscovering )Perasaan
Dalam menemukan kembali kedirian, kebanyakan orang harus mulai kembali ke awal dan menemukan kembali perasaan mereka. Banyak dari kita hanya memiliki gagasan yang kabur dari apa yang kita rasakan pada suatu waktu tertentu. Kita bereaksi terhadap tubuh kita seolah-olah mereka terpisah dan berbeda. Sementara itu, kita menyangkal emosi sendiri dan menganggap perasaan seperti mesin, menggambarkan mereka sebagai "ramah", "sayang", dan sebagainya. Kita harus mengakui bahwa kita memainkan peran aktif dalam menciptakan tubuh dan perasaan. Kesadaran akan tubuh dan perasaan meletakkan dasar-dasar untuk mengetahui apa yang diinginkan...

7. Empat Tahap Kesadaran Diri
May menjelaskan ada empat tahap kesadaran diri. Pertama, adalah tahap kesadaran tidak bersalah sebelum diri lahir, karakteristik tahap ini adalah bayi. Kedua, tahap pemberontakan individu yang berusaha untuk membangun kekuatan batin. Para balita dan remaja digambarkan sebagai orang yang berada pada tahap ini. Di sini, mungkin terdapat penentangan dan permusuhan. Ketiga, tahap kesadaran diri, tahap ini mengacu pada keadaan orang banyak, ketika mereka membahas kepribadian yang sehat.

8. Tujuan Integrasi
Konsep May mengenai manusia adalah kesadaran diri, mampu secara sadar, dan harus membuat pilihan. Dalam analisis eksistensial kepribadian, May berusaha untuk melemahkan dualisme traditional, yaitu antara subjek dan objekyang telah menghantui Barat. Pemahaman diri yarg muncul sejak Descartes yang mengatakan bahwa kita sadar diri, baik sebagai subjek maupun sebagai objek, mungkin menganggap diri sebagai satu kesatuan dalam kaitan dengan tujuan dari integrasi. May mengungkapkan masalah-masalah kunci dalam kepribadian dan berusaha menghindari kecenderungan abstrak yang terjadi yang membawa kehidupan ke dalam dualisme dan konstruksi buatan....

9. The Daimonic
May memperkenalkan konsep daimonic dan bersikeras bahwa manusia harus berdamai dengannya. The daimonic adalah "setiap fungsi alami yang memiliki kekuatan untuk mengambil alih seluruh pribadi". Seks, kemarahan, hasrat untuk kekuasaan, semua ini mungkin menjadi jahat ketika mereka mengambil alih diri tanpa memerhatikan integrasi diri. Kita dapat menindas daimonic, tetapi kita tidak dapat menghindari akibatnya. Dalam menekan itu, kita menjadi para budak.

10. Kekuasaan
Sebagaimana telah kita lihat, faktor dasar dalam krisis kontemporer kita adalah perasaan ketidakbermaknaan dan ketidakberdayaan. Kehidupan manusia dapat dilihat sebagai konflik antara mencapai rasa makna diri seseorang di satu pihak, dan merasakan ketidakberdayaan di pihak lain. Kita cenderung menghindari kedua belah pihak tersebut. Penyebabnya adalah karena telah menjadi penyebab kejahatan dan karena ketidakberdayaan yang terlalu menyakitkan untuk dipikul

Ingin yang lengkap Gan?
silahkan klik dibawah ini



SHARE THIS

Author:

Pendidikan : S1 BK, S2 BK. Pekerjaan : Dosen STMIK Pringsewu, Dosen Tamu BKI FDIK UIN Lampung. Keahlian : Model-model Konseling, BK Komprehensif, Konseling kelompok, Statistik Sosial

Previous Post
Next Post