Pertimbangan Etis dalam Pemilihan Tes

Pemilihan tes baik dalam penelitian maupun dalam aplikasi praktis prosedur-prosedur mereka, para psikolog sudah lama prihatin dengan pertanyaan tentang etika profesional. Sebuah contoh konkrit dari keprihatinan ini adalah program empiris sistematis yang diikuti pada awal 1950-an untuk mengembangkan kode etik formal pertama bagi profesi psikolog.Usaha yang ekstensif ini menghasilkan persiapan seperangkat standar yang secara resmi diterima oleh American Psychological Association (APA) dan pertama diterbitkan pada tahun 1953. Standar ini menjalani tinjauan dan penyempurnaan terus menerus yang menghasilkan publikasi periodik dari edisi-edisi yang direvisi. Versi yang ada sekarang Ethical Principles of Psychologists and Code of Conduct (Anastasi, 1997).

Semenjak 1970-an ada keprihatinan yang semakin kuat tidak hanya dengan masalah etis melainkan juga dengan pertanyaan lebih luas tentang nilai pada semua bidang, baik psikologi teoritis mau pun
psikologi terapan. Dalam area testing, analisis yang hati-hati tentang peran nilai dan dasar pemikiran etis yang melandasi berbagai praktek telah disajikan oleh Eyde dan Quaintance. Pada tingkat yang lebih spesifik, kode etik APA memuat banyak hal yang bisa diterapkan pada testing psikologis.

Prinsip kode etik dalam hal kompetensi menyatakan bahwa para psikolog memberikan hanya jasa dan menggunakan hanya teknik yang mereka kuasai melalui pendidikan, pelatihan atau pengalaman.
Dalam kaitan dengan tes, persyaratan bahwa tes-tes itu digunakan hanya oleh penguji-penguji yang memiliki kualifikasi tepat adalah satu langkah untuk melindungi peserta tes terhadap
penggunaan tes yang tidak selayaknya. Para penguji yang benar terlatih memilih tes yang sesuai baik dengan maksud tertentu yang menjadi tujuan testingnya maupun dengan orang yang diuji.

Mereka juga sadar tentang kepustakaan riset yang ada pada tes yang dipilih dan mampu melakukan evaluasi atas segi-segi teknisnya dalam kaitan dengan ciri-ciri seperti misalnya norma, re liabelitas,
dan validitas. Dalam menyelenggarakan tes mereka tanggap terhadap banyak kondisi yang bisa mempengaruhi kinerja tes.

Mereka menarik kesimpulan atau membuat rekomendasi hanya setelah mempertimbangkan skor tes dari segi informasi berkaitan lainnya tentang individu bersangkutan. Di atas segalanya mereka
seharusnya memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu tentang perilaku manusia untuk mewaspadai kesimpulan yang tidak ber dasar dalam interpretasi mereka atas skor-skor tes. Bila tes diselenggarakan oleh teknisi psikologis atau asisten psikologis, atau oleh orang yang tidak memiliki latihan professional memadai dalam prinsip-prinsip psikometris serta praktek penaksiran yang memadai, penting untuk diperhatikan bahwa seorang psikolog yang memiliki kualifi kasi
cukup hadir di tempat itu, setidak-tidaknya sebagai konsultan untuk memberikan perspektif yang dibutuhkan bagi interpretasi kinerja tes yang tepat.

Ada kesadaran yang makin besar tentang hak individu untuk memiliki akses pada temuan dalam laporan tes mereka sendiri. Peserta tes juga seharusnya memiliki kesempatan untuk memberikan
komentar pada isi laporan dan jika perlu menjernihkan atau mengoreksi informasi factual. Konselor sekarang berusaha lebih kuat untuk melibatkan klien sebagai participan aktif dalam penaksiran
mereka sendiri. Untuk maksud ini hasil-hasil tes seharusnya disa jikan dalam status bentuk yang mudah dipahami, bebas dari is ti lah atau label teknis dan berorientasi pada sasaran testing yang langsung.

Perlindungan yang memadai harus dilaksanakan untuk mencegah penyalahgunaan dan misinterpretasi temuan-temuan tes. Pembahasan tentang kerahasiaan catatan tes biasanya berhadapan dengan aksebilitas ke orang ketiga, yang berbeda dari pada orang yang dites (orang tua anak) dan penguji. Prinsip yang mendasarinya adalah bahwa catatan-catatan seperti itu seharusnya tidak dilepaskan tanpa pengetahuan dan ijin dari peserta tes kecuali jika pelepasan semacam itu dimandatkan oleh hukum dan diijinkan oleh hukum untuk maksud-maksud yang sah. Bila tes diadakan dalam suatu konteks kelembagaan sebagaimana dalam system sekolah, pengadilan, atau lingkup pekerjaan, individu seharusnya diberi informasi pada waktu testing tentang maksud tes, bagaimana
hasil-hasil tes akan digunakan dan ketersediaan hasil-hasil tes itu bagi lembaga yang memiliki kebutuhan sah akan hasil-hasil itu.

Dalam tahun-tahun belakangan ini, para psikolog mulai memikirkan komunikasi hasil-hasil tes dalam bentuk yang bermakna dan berguna bagi penerimanya. Tentu saja, informasi itu seharusnya
tidak disalurkan secara rutin melainkan harus memberikan penjelasan interpretative yang tepat. Tingkat kinerja dan deskripsi kualitatif yang luas dalam istilah yang sederhana akan lebih disukai dibandingkan skor-skor berupa angka yang spesifi k kecuali bila berkomunikasi dengan professional yang mendapat cukup pendidikan dalam bidang itu.

Diantara pihak-pihak yang mungkin menerima hasil tes, di samping peserta tes adalah orang tua anak, guru dan tenaga sekolah lainnya, atasan, psikiater, pengadilan dan petugas lembaga pemasyarakatan. Dalam semua komunikasi yang berhubungan dengan tes, hendaknya diperhatikan ciri-ciri orang yang harus menerima informasi itu. Hal ini berlaku tidak hanya pada pendidikan umum
orang tersebut dan pengetahuannya tentang psikologi serta testing, tapi juga pada respon emosionalnya yang bisa diantisipasi terhadap informasi yang diberikan. Dalam kasus orang tua atau guru misalnya keterlibatan emosional pribadi dengan anak bisa mempengaruhi penerimaan yang tenang dan rasional atas informasi faktual.

Pertimbangan reaksi emosional terhadap informasi tes amat penting bila orang sedang mempelajari asset dan kekurangannya. Ketika seorang individu diberitahu hasil tesnya, bukan hanya data
itu harus diinterpretasikan oleh orang yang betul memenuhi syarat, melainkan harus juga ada fasilitas yang memungkinkan pemberian konseling pada orang yang mungkin secara emosional ter ganggu
oleh informasi itu. Contohnya seorang mahasiswa bisa terganggu secara serius ketika dia mengetahui kinerjanya yang bu ruk pada tes kemampuan belajar. Seorang anak sekolah yang berbakat bisa
mengembangkan kebiasaan malas dan mengambil sikap gampang atau ia mungkin menjadi tidak kooperatif dan tidak dapat diatur, jika ia menemukan bahwa ia jauh lebih pandai dari pada rekan sebayanya.

Efek negatif semacam ini tentu saja bisa muncul terlepas dari benar tidaknya skor itu sendiri. Bahkan ketika sebuah tes diselenggarakan dan diberi skor secara akurat serta diinterpretasikan secara selayak
nya, pengetahuan akan skor semacam ini tanpa kesempatan untuk membahasnya lebih jauh bisa membahayakan individu bersangkutan.

SHARE THIS

Author:

Pendidikan : S1 BK, S2 BK. Pekerjaan : Dosen STMIK Pringsewu, Dosen Tamu BKI FDIK UIN Lampung. Keahlian : Model-model Konseling, BK Komprehensif, Konseling kelompok, Statistik Sosial

Previous Post
Next Post