Pengukuran Minat, Kemampuan dan Prediksi Pilihan Karir

Pengukuran Minat

Perihal yang menjadi landasan dalam pengembangan inventori minat adalah pikiran bahwa minat seseorang bisa dinyatakan dalam bentuk ungkapan suka dan tidak terhadap kegiatan-kegiatan atau hal-hal tertentu. Demikian juga, orang-orang yang bekerja dengan hasil baik di satu bidang pekerjaan, misalnya guru, mempunyai pola minat yang sama, sedangkan orang-orang sukses di satu pekerjaan, seperti guru, pola minatnya berbeda dengan mereka yang berhasil baik kerjanya di bidang lain, seperti artis. Inventori minat yang terkenal adalah Strong Vocational Interest Blanks (tes/inventori minat kejuruan, oleh Strong) dan Kuder Preference Records (Tes/inventori Kesukaan, oleh Kuder)

Strong Vocational Interest Blanks

Inventori ini dapat meramalkan keberhasilan bekerja di waktu yang akan datang. Apa yang bisa di tunjukkan skor dari inventori ini adalah bagaimana, seberapa jauh, ketertarikan orang akan suatu pekerjaan dari masuknya dia ke dalam pekerjaan itu, demikian juga lamanya dia bekerja disitu, jika dibandingkan denga orang-orang yang skornya rendah dalam kategori pekerjaan itu. Memang validitas inventori minat ditentukan dengan cara demikian, yaitu menggunkana orang-orang yang sukses bekerja di suatu pekerjaan selama sekurang-kurangnya tiga tahun untuk suatu pekerjaan yang dimasuki skornya tinggi, sedangkan untuk pekerjaan yang lain, yang tidak dimasukinya, skornya rendah. Skor orang yang lama bekerja di suatu pekerjaan, lebih tinggi daripada skor orang yang bekerja selain pekerjaan yang disebutkan, yang tetap disuatu pekerjaan lebih tinggi daripada yang pindah dari pekerjaan itu.

Inventori Strong mengandung empat ratus butir kegiatan kerja (vokasional) dan bukan kerja (avokasional) yang harus dijawab. Untuk satu bagian menjawabnya dengan melingkari (atau mengecek) pilihan LID (L untuk like, suka, I untuk indifferent, tidak ada pilihan, D untuk dislike, tidak suka. Sedangkan untuk bagian lain dengan angka 1,2,3 (1 untuk yang paling disukai, 3 untuk yang paling tidak disukai, dan 2 untuk yang bukan pilihan 1 dan 3. Dari jawaban itu disusun satu profil  untuk setiap subjek dan dari situ dapat diketahui bahwa minatnya menyerupai atau tidak menyerupai pola minat orang-orang yang sukses bekerja di suatu pekerjaan. Profil itu untuk seorang subjek, umpamanya menunjukkan skor A untuk arsitek, yang berarti bahwa minatnya sangat menyerupai minat arsitek yang berhasil, skor B untuk apoteker yang berarti minatnya agak menyerupai minat apoteker yang sukses dan C untuk artis bahwa minatnya tidak menyerupai minat artis yang berhasil. Ada instrument yang khusus untuk lelaki dan ada yang khusus untuk perempuan.

Dapat dipahami pekerjaan di kedua instrument itu berbeda, yang untuk perempuan sesuai denga sifat kewanitaan subjek. Inventori ini sangat berguna untuk keperluan bimbingan, yaitu dalam membantu siswa sewaktu merencanakan pekerjaan. Skor-skornya pada profil dapat digunakan untuk mendiagnosis diri dalam rangka mengambil keputusan. Hanya saja, inventori ini lebih cocok untuk mahasiswa daripada siswa-siswa sekolah menengah.

Penggunaan Tes dalam Bimbingan

Konselor harus dapat mengetahui minat siswa, cara sistematis dan baku untuk dapat mengetahui minat orang adalah dengan menggunakan tes minat, atau lazim disebut inventori minat, sperti pada contoh diatas yakni dengan SVIB. 
Tes tersebut digunakan untuk pemahaman diri, bagi konselor dan terlebih bagi klien. Dengan kata lain, acuan bahasan adalah tes dan penggunaannya untuk pemberian bantuan, dalam hal ini tes bagi konselor untuk membantu klien dan tes bagi klien untuk membantu dirinya sendiri. Disamping itu ada berbagai maksud dan penggunaan tes. Cronbach (dalam Munandir, 2004) mengatakan bahwa penggunaan tes adalah untuk memajukan pemahaman diri. Disamping itu dia menyebutkan penggunaan-penggunaan lain tes, yaitu untuk maksud-maksud klarifikasi, evaluasi dan modifikasi program atau perlakuan dan penyelidikan ilmiah.

Tugas konselor dalam membantu klien untuk memajukan pemahaman diri, diperlancar dengan menggunakan data hasil testing pribadi. Dengan perkembangan teori tentang kepribadian manusia, kecerdasan misalnya konselor perlu memiliki penyikapan yang tepat jika dan bila hendak menerapkan tes, dalam hal ini tes kecerdasan untuk membantu klien. Penggunaan tes dalam bimbingan, terutama adalah untuk maksud memajukan pemahaman diri klien dalam memahami dirinya, baik kekuatan maupun kelemahannya. Konselor memerlukan data hasil tes . siswa perlu dibantu untuk memperoleh pemahaman terhadap dirinya namun perlu menjadi perhatian bahwa tes itu sekedar alat bantu, untuk memahami diri, dan data tentang diri klien yang handal adalah apa pandangan klien tentang dirinya dan bagaimana klien memandang dirinya sendiri.

Pengukuran kemampuan

Dalam pengukuran kemampuan digunakan alat ukur yang handal dan dapat dipercaya, sebutan teknis alat ukurnya banyak digunakan istilah tes kemampuan umum, atau tes kemampuan skolastik umum, meskipun begitu istilah tes kecerdasan, atau tes intelegensi juga dipergunakan. Tes kecerdasan mengangung makna bawaan dari lahir, padahal kinerja orang dalam menggarap tes banyak bergantung pada banyak factor; pengetahuan, sikap, bahkan social-budaya. Seseorang jelek kinerjanya dalam mengerjakan tes belum berarti dia bodoh melainkan bisa jadi Karena ia tidak faham akan budaya soal yang terkadung dalam butir-butir soal itu. Kajian lebih lanjut menunjukkan bahwa hal itu karena orang yang mengerjakan tes itu berlatarbelakang budaya orang berbeda dengan para penyusun tes,  yang di Amerika mereka umumnya dari kelas social menengah, itulah pendapat dari Cronbach (dalam Munandir, 2004)

Agar bisa lebih baik menggunakan tes kecerdasan untuk keperluan bimbingan, konselor perlu memahami akan teori mengenai kecerdasan manusia dan hal lain dibalik pengembangan alat ukurnya. Dengan memahami teori tentang kecerdasan, konselor dapat mengambil manfaat yang terdapat dalam kekuatan instrument dan mencegah terjadinya hal-hal akibat adanya kelemahan-kelemahannya. Beberapa pendapat dari pakar tentang kecerdasan diberikan berikut ini, menurut Mc. Daniel, Cronbach, Thorndike (dalam Munandir, 2004) :

Binet berpendapat bahwa pikiran itu tunggal adanya dan memiliki satu tugas pokok yaitu mengadakan penyesuaian secara efektif dengan lingkungan.

Spearman, ahli statistic Inggris mengemukakan teori dua factor mengenai kecerdasan yaitu bahwa kecerdasan itu terdiri atas factor umum (general, g) dan banyak factor khusus (spesifik, s) factor g bekerja dalam semua kegiatan berpikir, sementara di dalam setiap kegiatan yang khusus bekerja satu atau lebih faktor.

Menurut Thorndike, kecerdasan itu terdiri atas banyak factor atau fungsi spesifik. Semakin banyak factor atau fungsi ini saling berhubungan maka semakin cerdas seseorang.

Kuosien kecerdasan

Hasil testing kecerdasan biasanya dinyatakan dalam kuosien kecerdasan (IQ). Kuosien kecerdasan merupakan perbandingan usia mental (UM) dangan usia kronologis (UK). Seorang siswa yang berhasil mengerjakan soal-soal dengan betul sebanyak yang diselesaikan rata-rata anak usia 12 tahun dikatakan mempunyai UM 12 tahun. Jika umur kalendernya (UK) baru sepuluh tahun maka IQ anak itu 12/10 x 100 = 120. Anak lain berusia sepuluh tahun hanya berhasil menyelesaikan soal sebanyak yang mampu dikerjakan rata-rata anak usia Sembilan tahun maka IQ-nya 9/10 x 100 = 90. Skor IQ sebesar 100 menunjukkan kecerdasan rerata, dibawah 100 menunjukan dibawah rerata. Skor 120-139 merupakan petunjuk kecerdasan unggul, 140 atau lebih sangat unggul (genius), 70-79 menunjukkan batas efektif (cacat). Ada juga dijumpai di dalam pustaka penelitian lain untuk kecerdasan bawah normal ini, yaitu lemah ingatan (feeble-minded). Penamaan-penamaan demikian menyesatkan, karena sebetulnya tidak ada batas yang jelas antara kebodohan dan kepintaran.

Daripada memberikan label mengenai kecerdasan berdasarkan IQ-nya, akan berguna bagi konselor dalam mengetahui bagaimana hasil penelitian tentang IQ orang-orang yang diketahui berhasil sekolahnya dari gelar-gelar pendidikannya (master, doctor) atau tanda tamat yang dicapainya. Sebagai contoh, dari sumber pustaka diperoleh catatan bahwa di Amerika, IQ rerata pemegang doctor 130, master 120, tamat SMA 110, seperti yang dikemukakan oleh Cronbach (dalam Munandir, 2004).

Tes didunakan dalam bimbingan dan konseling untuk maksud pemahaman, dalam rangka perencanaan pendidikan dan karir, konselor perlu memperoleh pemahaman tentang diri siswa dan siswa perlu memahami dirinya. Dalam pemilihan karir, maka siswa dibantu melihat peluang keberhasilannya di waktu yang akan datang. Tes kemampuan umum bisa memberikan petunjuk tersebut. Tetapi, jangan terlalu mengandalkan alat pengukuran tersebut. Penyikapan yang sejalan sehubungan dengan kegunaan dan penggunaan tes ini adalah bahwa jika tes itu digunakan dengan berhati-hati dan seksama, dan jika bisa dilengkapi dengan data dan bahan informasi lain, maka hal itu akan memberikan dasar bagi siswa untuk mengambil keputusan dan membuat langkah tindakan yang sesuai.

Prediksi Pilihan Karir

John Holland (dalam Suherman, 2011) mengemukakan bahwa pengetahuan diri mempunyai peranan meningkatkan (increase) atau mengurangi (decrease) ketepatan pilihan seseorang. Pengetahuan diri diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk membedakan berbagai kemungkinan lingkungan yang dipandang dari sudut kemampuan yang dimiliki oleh individu itu sendiri. Penilaian diri (self-evaluation) berbeda dengan pengenalan diri. Penilaian diri lebih menitikberatkan pada penghargaan terhadap dirinya, sedangkan pengetahuan diri berisikan sejumlah informasi yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. Penilaian diri yang terlalu tinggi mengakibatkan pilihan yang melebihi kecakapannya atau aspirasi yang tidak realistis (over-evaluation leads to the selection of environment beyond the person’s adaptive skills or unrealistic aspirations), dan penilaian yang kurang menyebabkan pilihan di bawah kecakapan atau aspirasi yang tidak realistis (under-evaluation leads to the selection of environment below the person’s skills or unrealistic aspirations).

Dalam proses pilihan pekerjaan, Holland (dalam Munandir, 2004) bependapat bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor diri dan faktor lingkungan. Faktor diri meliputi pengetahuan tentang diri (self-knowledge), evaluasi diri (self-evaluation), dan pengetahuan karir (arah atau luasnya pekerjaan). Sedangkan faktor lingkungan meliputi potensi lingkungan, tekanan sosial yang bersumber dari keluarga dan teman, penilaian atasan dan potensi dari atasan, serta batasan-batasan yang berasal dari sumber sosial ekonomi dan lingkungan fisik. Teori perkembangan Holland ini membantu seseorang menghadapi pilihan karir untuk mempertimbangkan dimensi kepribadian yang kompleks dari suatu pekerjaan dalam suatu cara yang sistematik dan realistik (dalam Suherman, 2011).

Holland (dalam Munandir, 2004) menungkapkan bahwa pemilihan karir atau jabatan adalah hasil dari interaksi antara faktor hereditas dengan segala pengaruh budaya, teman bergaul orang tua, orang dewasa yang dianggap memiliki peranan yang penting.

Jadi, pemilihan karir pada dasarnya merupakan ekspresi atau perluasan kepribadian ke dalam dunia kerja yang diikuti dengan pengidentifikasian terhadap stereotipe okupasional tertentu. Dengan adanya tes terhadap minat dan kemampuan seperti yang sudah dijabarkan diatas, maka dapat dipergunakan untuk melakukan prediksi bagi siswa dalam melakukan pemilihan karir. Dengan itu karir setelah siswa selesai menempuh study atau merampungkan pelatihan karir akan lebih mudah diarahkan sesuai dengan minat atau kemampuan yang mereka pilih dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan yang didapatkan dalam informasi di tes tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Munandir.  2004. Bimbingan Karir. Jakarta : Dikti

Suherman, U. 2011. Bimbingan dan Konseling Karir. Bandung : Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

0 التعليق:

Post a Comment

Penulis
Pendidikan
1. S1 BK (STKIPMPL)
2. S2 BK (Unnes)