Teori Behavioral




Setiap dari kita memiliki pola-pola perilaku unik dan sebagian besar dari kita yakin sanggup memahami kenapa kita bersikap dengan cara tertentu bahkan kenapa orang lain berperilaku tertentu. Meskipun kita memiliki hanya bukti anekdot dan bukannya ilmiahm namun kita dapat mengembangkan seperti dilakukan banyak orang pada umumnya, teori kepribadian kita sendiri mengenai perilaku. Sedangkan yang terkait dengan pengembangan ilmiah teori behavioral dan pengkondisianm kita bias melacaknya dari temuan-temuan Pavlov di abad XIX mengenai pengkondisian klasik. Fondasi terpenting pendekatan behavioral ditemukan berkutnya pada system psikologi yang disebut behaviorismem digagas psikolog Amerika John B Watson (1913) lewat artikel “Psychology as the Behaviorist Views It”.

Riset dan publikasi penting pendekatan klasiknya dilakukan Watson Thorndike dan teoretisi awal lainnya, namun baru pada B.F Skinner pendekatan behavioral dikembangkan secara sistematis dan prinsip-prinsipnya disempurnakan sehingga teori ini bias menjadi popular seperti sekarang, Kaum behavioris melihat perilaku sebagai perangkat respons yang dipelajari terhadap kejadian, pengalaman, peristiwa atau stimuli dalam sejarah hidup seseorang. Kaum behavioris yakin kalau perilaku bias dimodifikasi dengan menyediakan kondisi dan pengalaman belajar yang tepat.

Asal-usul eksperimental dari pendekatan ini menjelaskan kenapa kaum behavioris menolak konsep-konsep yang tidak bias diukur atau diamati, Daripada menyoroti dinamika emosi yang dianggap karakteristik utama perilaku versi Freudian atau Rogerian, kaum behavioris berfokus kepada tujuan perilaku tertentu, menitikberatkan metode ketepatan dan perulangan, pendekatan teoretis behavioral terhadap konseling sudah tumbuh stabil sejak era 1950-an dan dewasa ini telah digunakan para terapis di berbagai lingkup yang luas. Pendekatan ini juga berhasil menyembuhkan dilema perokok, gangguan makan, pengontrol berat tubuh, kesulitan bicara, problem perilaku dan sebagainya.

Bagi para behavioris, konseling melibatkan penggunaan sistematik berbagai prosedur yang diniatkan secara khusus untuk mengubah perilaku berdasarkan tujuan-tujuan yang diinginkan bersama-sama konselor dank lien. Prosedur-prosedur ini digunakan untuk memandu berbagai teknik yang diambil dari pengetahuan tentang proses belajar. Pemimpin terkemuka dewasa ini di dalam psikologi behavioral adalah John D. Krumboltz (1966, hal 13-20), yang secara historis menempatkan prosedur-prosedur behavioral menjadi empat kategori, yaitu :
  1. Pembelajaran operan : Pendekatan ini didasarkan kepada manfaat penguat dan pewaktuan presentasi mereka untuk menghasilkan perubahan. Penguat-penguat bias jadi merupakan penghargaan konkret atau diekspresikan sebagai persetujuan atau atensi.
  2. Pembelajaran imitative : Pendekatan ini membantu pencapaian respons baru dengan mempelajari model-model perilaku yang diinginkan.
  3. Pembelajaran kognitif : Pendekatan ini mendukung pembelajaran terhadap respons yang tepat dengan sedekar menginstruksikan klien beradaptasi lebih baik.
  4. Pembelajaran emosi : Pendekatan ini melibatkan penggantian respons emosi yang bias diterima secara social untuk reaksi-reaksi emosi yang tidak menyenangkan dengan menggunakan teknik-teknik yang diambil dari pengkondisian klasik.

Krumboltz mempopulerkan pendekatan behavioral bagi konseling dan psikoterapi ketika mengidetifikasikan konseling sebagai cara membantu klien belajar memecahkan problem mereka. Pembelajaran dan pembelajaran ulang dilihat sebagai cara membantu manusia membuat perubahan. Krumboltz juga mengaplikasikan teori behavioral dengan menguantifikasi dan mengukur hubungan antara garis kebijakan suatu konseling dengan kesuksesannya.

Arnold Lazarus (2000) mengembangkan secara sistemis sebuah pendekatan multimodal bagi konseling dan psikotoerapi yang didasarkan kepada model behavioral. Dalam modelnya tersebut, ia menggunakan akronim BASIC-ID untuk mendata semua faset kehidupan klien. Terapi multimodal sebenarnya bukan murni behavioral karena berbasis kepada pengkondisian ulang, namun bias dikelompokkan menjadi terapi behavioral karena berorientasi tindakan dan berfokus perilaku ke perilaku yang diamati.

Kaum behavioris-kognitif membantu mempopulerkan metode behavioral, mempraktekkan keterampilan dan memberikan sejumlah tugas Pekerjaan Rumah (PR). Meichenbaum (1977) contohnya, telah menciptakan sebuah pendekatan behavioral-kognitif untuk meningkatkan keterampilan, menggunakan pengawasan diri dan verbalisasi diri.

Kaum behavioris yakin bahwa menetapkan tujuan konseling berbasis perilaku yang bias diamati lebih berguna ketimbang menetapkan tujuan yang sekedar didefinisikan secara abstrak dan umum seperti  pemahaman diri atau penerimaan diri. Ini berarti hasil-hasil konseling mestinya bias dikenali berdasarkan perubahan perilaku yang terlihat mencolok. Tiga contoh perubahan perilaku yang tepat bagi konseling adalah berubahnya perilaku yang tidak menyenangkan, pembelajaran proses pengambilan keputusan dan pencegahan problem.

Sumber : Gibson & Mitchell. (2011). Bimbingan dan Konseling. (Terjemahan)Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Share This Article
Komentar Anda

ingin mengenal admin?
kunjungi blog pribadi saya di
http://isnidhanianto.blogspot.com