Konseling untuk Penderita Depresi

A.    Pengertian Depresi

Depresi merupakan salah satu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa tidak berharga, merasa kosong, dan tidak ada harapan, berpusat pada kegagalan dan menuduh diri, dan sering disertai iri dan pikiran bunuh diri, klien tidak berminat pada pemeliharaan Diri dan aktivitas sehari-hari. (Kelliat, B.A, 1996)

Depresi adalah suatu kondisi yang dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, perilaku dan kesehatan secara keseluruhan. Hal ini dapat berdampak tidur dan nafsu makan, cara seseorang merasa tentang diri sendiri dan cara dimana orang berpikir tentang berbagai hal (National Institutu Mental Health, 2001). Depresi adalah gangguan internalisasi, seperti gangguan kecemasan, penarikan sosial dan masalah somatik (Merrell, 2001).

Gangguan internalisasi yang ditandai dengan overcontrol, yang menyiratkan bahwa individu dapat overregulate atau tidak tepat mengendalikan emosi mereka. Secara lebih sederhana Rice, P. L. (1992) mendefinifikan depresi sebagai gangguan perasaan, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang.

 B.    Faktor Penyebab Depresi

a.    Faktor Biologis
Faktor biologis spesifik yang terkait dengan perkembangan depresi termasuk kelainan dalam fungsi neurotransmitter dan/atau sistem endokrin. Dalam banyak kasus, individu memiliki kecenderungan genetik untuk kelainan tersebut (Merrell, 2001).

b.    Faktor Kognitif-Perilaku
Interpretasi yang tentang suatu peristiwa dan atau kondisi sangat berpotensi memicu gangguan emosional dan gangguan perasaan, karena keadaan tersebut dapat mempengaruhi pandangan seseorang tentang diri, dunia dan masa depan.

c.    Tekanan (Stressor)
Pemuda yang mengalami stres mungkin lebih banyak mengalami depresi daripada mereka yang tidak. Dalam sebuah kajian tentang remaja dengan rentang usia 12-14 tahun, diasumsikan bahwa stres memiliki efek kausal yang kuat terhadap gangguan depresi dan berpotensi memunculkan regresi harga diri seseorang.

d.    Lingkungan (Keluarga dan Sebaya)
Faktor hubungan dengan keluarga terkait dengan depresi, termasuk konflik yang luas, pola komunikasi yang buruk, kohesi keluarga yang rendah dan tidak tersedianya dukungan emosional orang tua. Hubungan yang tidak harmonis buruk dengan teman sebaya, tidak memiliki teman dekat dan dianggap tidak populer atau "berbeda" juga dapat menyebabkan gejala depresi pada siswa

Konsekuensi Depresi

a.    Munculnya berbagai penyakit fisik, seperti gangguan pencernaan (gastritis), asma, gangguan pada pembuluh darah (kardiovaskular) serta menurunkan produktivitas.

b.    Kendala psikososial berkepanjangan, memperburuk prognosis, menambah beban pelayanan medis, meningkatnya risiko bunuh diri dan penyalahgunaan zat serta meningkatnya risiko kekambuhan

C.    Tanda dan Gejala Depresi

Secara umum Frank J. Bruno (1997) mengemukan bahwa ada beberapa tanda dan gejala depresi, diantaranya:

  1. Tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan yang ada, hobi atau rekreasi tidak memberikan kesenangan.
  2. Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan.
  3. Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor penentu, sebagian orang yang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi dilain pihak banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur.
  4. Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya.
  5. Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan “saya selalu merasa lelah”. Ada anggapan bahwa gejala itu disebabkan oleh faktor-faktor emosional, bukan faktor biologis.
  6. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna, tidak efektif. Orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri. Pemikiran seperti, “saya menyia-nyiakan hidup saya atau saya tidak bisa mencapai banyak kemajuan” seringkali terjadi.
  7. Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan untuk memecahkan masalah secara efektif
  8. Perilaku merusak diri.
  9. Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri.
 Isi merupakan bagian dari Makalah Konseling untuk Konseli Terbelakang Mental dan Kesulitan Belajar mata kuliah Wawasan BK yang diampu Dr. Imam Tadjri, M.Pd. Makalah ini ditulis oleh Mahasiswa Pascasarjana Prodi Bimbingan dan Konseling UNNES atas nama Ema Sukmawati, S.Pd.
 
Versi Lengkap tersedia di Base... silahkan request melalui kolom komentar jika ingin mendapatkan makalah lengkap. Jangan lupa klik iklan gan. biar ane nambah semangat update. Terima kasih

SHARE THIS

Author:

Pendidikan : S1 BK, S2 BK. Pekerjaan : Dosen STMIK Pringsewu, Dosen Tamu BKI FDIK UIN Lampung. Keahlian : Model-model Konseling, BK Komprehensif, Konseling kelompok, Statistik Sosial

Previous Post
Next Post