Konsep-konsep utama dan filsafat pendekatan konseling : Psikoanalitik dan Behavioral

Konsep-konsep tentang sifat manusia, tujuan-tujuan terapi yang berakar pada pandangan tentang sifat manusia, dan teknik-teknik yang digunakan cenderung berbeda-beda pada masing-masing pendekatan konseling. Perbedaan-perbedaan terutama tampak jelas diantara asumsi-asumsi filosofis yang melandasi tiga pendekatan yang berbeda : pendekatan psikoanalitik, dan pendekatan behavioral. Adalah menjadi keyakinan bahwa pandangan-pandagan tentang sifat manusia dan asumsi-asumsi dasar yang menopang pandangan-pandangan tentang proses konseling memiliki implikasi-implikasi yang berarti bagi pengembangan praktek-praktek konseling. Asumsi-asumsi filosofis itu penting karena menspesifikasi seberapa banyak kenyataan yang bisa kita persepsi dan karena mengarahkan perhatian kita kepada variable-variabel yang kita persiapkan untuk melihatnya. Jadi, seorang analisis Freudian dan seorang terapis client-centered berkerja dengan cara-cara yang berbeda satu sama lain, dan mereka memiliki konsep yang sangat berbeda dengan sifat manusia.

Pendekatan psikoanalitik Freudian memandang manusia melalui kacamata deterministic. Ia berasumsi bahwa manusia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar dan irasional, oleh energi psikis, oleh pencarian keseimbangan homeostatic dan oleh pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak dini. Dalam praktek, pendekatan ini menekankan peran impersonal dan anonym dari terapis serta menempatkan terapis dalam peran sebagai ahli yang mendiagnosis, merumuskan suatu konseptualisasi sejarah klien, menentukan suatu rencana treatment, dan menggunakan teknik-teknik penafsiran untuk secara perlahan menyingkap material yang tak disadari. Pendekatan psikoanalitik menitikberatkan pemahaman dan pengertian atas masa lampau, yang dicapai melalui penafsiran yang cerdik. Psikoanalisis adalah suatu pendekatan terapi jangka panjang yang diarahkan kepada pengubahan kepribadian. Bagaimanapun, psikoanalisis memandang klien memiliki kemampuan untuk berubah dan untuk membentuk ulang masa depannya, klien bukanlah ditentukan tanpa daya oleh pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak dini dan dinamika-dinamika tak sadar yang direpresi. Tujuan membuat hal-hal yang tak disadari menjadi disadari menempatkan klien pada keadaan untuk berubah. Perubahan itu menjadi mungkin berkat pemahaman terhadap penyebab gangguan-gangguan emosional.

Pendekatan behavioral tidak memperhatikan konsep-konsep yang abstrak mengenai sifat dasar manusia dan sebaliknya berfokus kepada tingkahlaku, tingkah laku spesifik yang dapat diamati. Klien menentukan tujuan-tujuan, tetapi konselor harus cukup ahli untuk mengembangkan suatu rencana treatment khusus guna membantu klien dalam merealisasi perubahan-perubahan spesifik dan kongkret yang diinginkannya. Pendekatan tingkahlaku menekankan penaksiran yang objektif atas keefektifan prosedur-prosedur treatment. Meskipun berasumsi bahwa tingkahlaku manusia adalah hasil dari belajar, artinya seseorang dikondisikan oleh pengaruh-pengaruh eksternal, dan tingkahlaku yang dipelajari itu dibentuk oleh perkuat atau tidak adanya perkuat itu. Akan tetapi, sama halnya dengan psikoanalisis, pendekatan behavioral berasumsi bahwa individu mampu berubah dengan merancang ulang keniscayaan-keniscayaan ekstenal. Apa yang telah dipelajari bisa dihapuskan dengan belajar, dan pola tingkahlaku baru yang efektif bisa menggantikan tingkahlaku yang tidak efektif. Pendekatan ini memiliki beberapa cirri khas : objektif dalam orientasinya dan tidak menekankan dimensi-dimensi subjektif dari pengalaman manusia, yang tidak bisa diamati secara langsung. Ini merupakan suatu pendekatan spesifik yang menggunakan prosedur-prosedur treatment yang spesifik berlandaskan tujuan-tujuan spesifik, bukan orientasi yang sifatnya global.

SHARE THIS

Author:

Pendidikan : S1 BK, S2 BK. Pekerjaan : Dosen STMIK Pringsewu, Dosen Tamu BKI FDIK UIN Lampung. Keahlian : Model-model Konseling, BK Komprehensif, Konseling kelompok, Statistik Sosial

Previous Post
Next Post