KEPRIBADIAN DALAM ISLAM

Kepribadian dalam Al-Qur’an dan Sunnah

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Qashas 77 :

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Dalam surat Al-Qashas ini Allah SWT menggambarkan manusia memiliki keistimewaan yang membedakannya dari makhluk Allah lainnya. Juga dalam surat ini Allah SWT memberikan penerangan sebagian model kepribadian manusia yang memiliki keistemewaan dari kepribadian yang lainnya. Dan dalam surat ini juga menjelaskan gambaran kepribadian yang baik dan buruk.

Dan dalam sunnah atau hadits qudsi bahwasanya;

“sesungguhnya aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan memeluk agama yang hanif. Lalu setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka”. (HR. Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwasanya Allah SWT menciptakan manusia dalam kedudukannya sebagai hamba Allah. Adalah memiliki kepribadian hanif, yakni dalam suatu kondisi dekat pada kebenaran dan dalam keadaan berislam, hanya saja permasalahannya adalah tidak semua manusia dikembalikan dalam berkepribadian sebagai muslim. Dalam hadist ini menyatakan factor yang membuat orang tidak dikembalikan dalam berkepribadian sebagai muslim atau melenceng dari keislaman adalah dikarenakan factor humanis yakni, dari bentuk pendidikan dan pengajaran yang tidak sesuai dengan dengan islam atau selain islam.sehingga dibutuhkan bentuk pendidikan dan pengajaran yang mengarahkan manusia pada islam sehingga terhindar dari pelencengan atau penyimpangan keselain islam seperti Yahudi, Nasrani ataupun majusi.

B.Keseimbangan Kepribadian

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Qashas 77 :

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Ayat ini juga kembali menjelaskan tentang keseimbangan kepribadian, agar manusia dapat mewujudkan keseimbangan antara kebutuhan biologis dan spiritualdalam kehidupannya, dengan cara menghindari berlebih-lebihan dalam pemenuhan salah satu dari keduanya dengan mengabaikan yang lainnya.

Sejalan dengan makna ayat ini, Rasulullah bersabda,
“Bukanlah termasuk orang yang baik apabila ia mau bekerja untuk dunianya dan mengabaikan akhiratnya, ataupun yang bekerja untuk akhiratnya dan meninggalkan dunianya, sesungguhnya sebaik-baiknya orang diantara kamu adalah yang bekerja untuk ini dan ini (Dunia dan akhiratnya)”. (Falsafatul Akhlak Fil Islam, Muhammad Mugniyah: 194-195)

Inilah gambaran kepribadian yang baik menurut islam yakni dapat menyeimbangkan kebutuhan tubuh dan ruhnya atau kebutuhan fisik dan spiritualnya.

Sedangkan kepribadian manusia yang buruk adalah manusia yang berlindung dibawah kendali syahwat dan hawa nafsunya. Ataupu sebaliknya yakni orang yang mengekang factor biologisnya dan memaksa tubuhnya untuk selalu beribadah dan beribadah sehingga melemahkan tubuhnya,

0 التعليق:

Post a Comment

Penulis
Pendidikan
1. S1 BK (STKIPMPL)
2. S2 BK (Unnes)