UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum terbaru yang harus diterapkan di semua sekolah. Perbedaan mendasar KTSP dengan Kurikulum sebelumnya adalah bahwa KTSP sepenuhnya disusun oleh sekolah masing-masing. Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan ini diharapkan mampu manjadi pedoman dan pemandu arah dalam proses pembelajaran.

Perubahan kurikulum akan berdampak pada perubahan sistem pembelajaran, sistem penilaian, sistem kelulusan dan tuntutan-tuntutan perubahan lainnya yang pada akhirnya berpengaruh pada pencapaian prestasi belajar siswa secara maksimal. Bahkan bagi siswa tertentu perubahan ini dapat menimbulkan rasa putus asa dalam belajar di sekolah dan banyak pula diantara siswa yang mengalami kesulitan belajar sehingga prestasi belajarnya menurun.
Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Aktifitas belajar bagi setiap individu ini tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, kadang-kadang tidak lancar dan dapat juga terasa amat sulit. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, jika masalah-masalah dalam belajar terjadi pada siswa tentunya harus menjadi perhatian guru untuk dicarikan solusi terbaik agar masalah belajar tersebut tidak berlarut.

Kesulitan belajar yang menjadi salah satu masalah belajar siswa tidak selalu disebabkan oleh faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi, dengan demikian IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan seorang siswa dalam belajar.

B. Pembatasan Masalah
Selain sebagai pengajar, guru Sekolah Dasar juga diharapkan mampu menjadi seorang pembimbing. Bimbingan dan pelayanan guru akan membantu siswa dalam mengembangkan kebiasaan belajar yang baik untuk dapat menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan.
Mengingat banyaknya ruang lingkup diagnosis dalam mengatasi kesulitan belajar, maka penulisan makalah ini dibatasi pada topik upaya guru SD dalam mengatasi masalah belajar siswa.

C. Perumusan Masalah
Siswa yang mengalami kesulitan belajar biasanya menunjukan gejala-gejala yang mudah diamati oleh guru. Beberapa tanda adanya kesulitan belajar pada siswa, misalnya :
1. Menunjukan prestasi yang rendah/ di bawah rata-rata prestasi yang dicapai oleh kelompok kelas
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha belajar dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan soal, mengerjakan pekerjaan rumah, dan tugas-tugas lainnya.
4. Menunjukan sifat yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura, dusta, dll.
5. menunjukan tingkah laku yang berlainan, seperti : mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih.
Dari gejala-gejala yang nampak tersebut dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar siswa tersebut mengalami kesulitan belajar.
Uraian di atas merujuk pada suatu rumusan masalah yaitu bagaimana upaya guru SD dalam mengatasi masalah belajar siswa ?

D. Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan menghasilkan suatu manfaat sebagai berikut :
1. Bagi penulis akan memperoleh suatu pengetahuan tentang kesulitan belajar siswa dan bagaimana mengatasinya.
2. Bagi dunia pendidikan, khususnya guru SD memperoleh masukan dalam memahami upaya mengatasi masalah belajar siswa.

E. Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana upaya guru SD dalam mengatasi masalah belajar siswa.

F. Landasan Teori
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasilan dan UUD Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan zaman”.

Secara khusus, Thomson & Rudolph (1983) melihat pekembangan individu dari sudut perkembangan kognitif. Dalam perkembangannya, anak-anak (siswa) berkemungkinan mengalami masalah belajar karena adanya hambatan perkembangan kognitif dalam empat bentuk :
1. Hambatan Egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihat kemungkinan lain di luar apa yang dipahaminya,
2. Hambatan Konsentrasi, yaitu ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian pada lebih dari satu aspek tentang suatu hal,
3. Hambatan Reversibilitas, yaitu ketidakmampuan untuk menelusuri alur yang terbalik dari alur yang dipahami semula,
4. Hambatan Transformasi, yaitu ketidakmampuan meletakan sesuatu pada susunan urutan yang ditetapkan.

G. Metodologi Penelitian
Dalam penulisan makalah ini penulis secara langsung mengadakan pengamatan pada proses bagaimana upaya guru SD dalam mengatasi masalah belajar siswa. Penulis menggunakan sample teknik Random Sampling, yaitu pengambilan sample secara acak.
Penulis melakukan teknik testing dan non testing dalam pengumpulan data. Test merupakan tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada siswa atau kelompok dengan maksud untuk membedakan kecakapan atau kharakteristik seseorang dengan yang lain melalui membandingkan tingkah lakunya. Teknik non testing penulis gunakan untuk mengumpulkan data yang tidak dapat dikumpulkan dengan tehnik testing.

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

Siswa yang mengalami masalah belajar perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guru adalah (a) pengajaran perbaikan, (b) kegiatan pengayaan, (c) peningkatan motivasi belajar, dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif.

a. Pengajaran perbaikan
Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seorang atau sekelompok siswa yang menghadapi masalah belajar dengan maksud memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahan pengertian, dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. Guru harus berupaya memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

b. Kegiatan Pengayaan
Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan guru kepada seorang atau beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah, memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya.

c. Peningkatan Motifasi Belajar
Salah satu bantuan yang dapat diberikan guru dalam mengatasi masalah belajar siswa adalah dengan memberikan motivasi belajar. Prosedur-prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Memperjelas tujuan-tujuan belajar. Siswa .akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila ia mengetahui tujuan–tujuan atau sasaran yang hendak dicapai
2) Menyesuaikan pengajaran dengan bakat, kemampuan dan minat siswa.
3) Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang dan menyenangkan .
4) Memberikan hadiah ( penguatan ) dan hukuman bila mana perlu.
5) Menciptakan suasana hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan murid, serta antara murid dan murid.
6) Melengkapi sumber dan peralatan belajar.

d. Pengembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar yang Baik
Sikap dan kebiasaan belajar yang baik tidak tumbuh secara kebetulan, melainkan seringkali perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana, terutama oleh guru-guru dan orang tua siswa. Upaya selanjutnya yang dilakukan guru dalam pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik adalah :
1) Menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar.
2) Memelihara kondisi kesehatan yang baik.
3) Mengatur waktu belajar, baik di sekolah maupun di rumah.
4) Memilih tempat belajar yang baik.
5) Belajar dengan menggunakan sumber belajar yang kaya, seperti buku-buku teks dan referensi lainnya.
6) Membaca secara baik dan sesuai dengan kebutuhan, misalnya kapan membaca secara garis besar, kapan secara terinci, dan sebagainya.
7) Untuk tidak segan-segan bertanya mengenai hal-hal yang tidak diketahui kepada guru, teman atau siapa pun juga.

BAB III
KESIMPULAN

Peran guru dalam mengatasi masalah belajar sebagaimana sebagaimana diuraikan dalam pembahasan diatas cukup menunjang keberhasilan pendidikan secara umum, terlebih lagi bagi siswa yang secara langsung menjadi subjek didik. Tetapi untuk merealisasikan hal itu memerlukan syarat-syarat yang tidak ringan dan menyangkut komponen pokok dalam pendidikan di sekolah. Keberhasilan penanganan berbagai masalah belajar di sekolah harus pula ditunjang oleh beberapa hal sebagai berikut :
1. Guru SD selain sebagai pengajar juga berperan sebagai pembimbing yang harus memiliki keyakinan, ketrampilan dan motivasi yang tinggi untuk dapat merealisasikan upaya penanganan masalah belajar siswa yang terjadi di kelasnya.
2. Dukungan teman sejawat sangat diperlukan. Adanya kerjasama dan sikap saling memahami dan menghargai, akan mempermudah penyelesaian berbagai masalah yang ada dalam belajar siswa.
3. Terciptanya suasana saling membutuhkan, terutama siswa yang merasa membutuhkan guru; adanya usaha guru agar fasilitas yang ada dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh siswa, dengan dorongan dan pengarahan pihak-pihak yang ada di sekolah.
4. Kerjasama, saling membutuhkan dan saling menghargai, sikap terbuka dan komuniasi yang baik, semua itu sangat diperlukan untuk terealisasinya upaya guru SD dalam mengatasi masalah belajar siswa



Post a Comment for "UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA"