Konseling Posttraumatic Stres Disolder (PTSD)

A.    Posttraumatic Stres Disolder / PTSD

Gangguan Stres Pascatrauma (Posttraumatic stres disorder/PTSD) adalah reaksi maladaptif yang berkelanjutan terhadap suatu pengalaman traumatis. Berbeda dengan Gangguan Stres Akut (Acute stres disorder/ASD) yang merupakan suatu reaksi maladatif yang terjadi hanya pada awal sebuah pengalaman traumatis. ASD adalah faktor resiko mayor untuk PTSD, karena banyak orang dengan ASD yang kemudian mengembangkan PTSD (Harvey & Bryant, 1999, 2000; Sharp & Harvey, 2001). ASD hanya berlangsung beberapa saat saja akan tetapi PTSD justru sebaliknya, akan berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun atau sampai beberapa dekade dan mungkin baru muncul setelah beberapa bulan atau beberapa tahun setelah adanya pengalaman terhadap peristiwa traumatis (Zlotnick dkk, 2001).

Kedua tipe gangguan stres ini terdapat pada mereka yang pernah mengalami pengalaman traumatis seperti korban bencana alam, korban kecelakaan dalam berkendaraan, korban konflik atau peperangan, korban perkosaan, korban kekerasan atau penganiayaan baik fisik maupun psikis. Pada PTSD, peristiwa traumatis tersebut melibatkan kematian atau ancaman kematian atau cedera fisik yang serius, atau ancaman terhadap keselamatan diri sendiri dan orang lain. Respons terhadap ancaman tersebut mencakup perasaan cemas, perasaan takut yang intens, perasaan tak berdaya, atau rasa ngeri (horor).

Meskipun kebanyakan orang yang mempunyai pengalaman traumatis sampai pada taraf tertentu seperti mengalami distres psikologis (Sharp & Harvey, 2001), tidak semua korban trauma mengembangkan ASD atau PTSD. Tetapi banyak yang menderita hal tersebut.

B.    Faktor Penyebab PTSD

Pemaparan terhadap trauma adalah sangat biasa dalam masyarakat umum. Suatu sampel acak dari orang Amerika baru-baru ini menunjukkan bahwa 72% melaporkan pernah berhadapan dengan pengalaman traumatis, seperti pemaparan terhadap bencana alam, kematian, kecelakaan kendaraan yang serius, menjadi saksi kekerasan, atau mengalami serangan fisik, perkosaan, atau penganiaaan fisik atau seksual (Elliott, 1997). Pada studi baru-baru ini, peneliti menemukan bahwa kira-kira 1 di antara 3 korban kecelakaan kendaraan bermotor mengembangkan PTSD dalam waktu satu tahun setelah kecelakaan (Koren, Arnon, & Klein, 1999; Ursano dkk, 1999). Suatu studi terhadap 255 korban orang dewasa yang selamat dari pemboman kota Oklahoma pada tahun 1995 menujukkan prevalensi sebesar 34% untuk PTSD dalam waktu 6 bulan setelah malapetaka tersebut (North dkk, 1999). Meskipun kita belum tahu berapa orang yang akan mengembangkan PTSD sebagai akibat dari serangan teoris pada tahun 2001 di World Trade Center, New York, kita dapat memperkirakan kerugian emosional yang luar biasa tingginya yang dialami oleh para korban.

Dari pemaparan tersebut faktor penyebab penderita PTSD adalah mereka yang merupakan korban atau pernah mengalami berbagai peristiwa traumatis, seperti :
1.    Bencana alam,
2.    Konflik atau peperangan,
3.    Korban pengeboman atau teroris,
4.    Kecelakaan kendaraan (mobil/motor),
5.    Kematian orang terdekat,
6.    Pemerkosaan,
7.    Kekerasan fisik atau penganiayaan hingga pembunuhan.

Secara keseluruhan, para peneliti percaya bahwa sekitar 8% dari orang Amerika dewasa mengalami PTSD suatu masa dalam hidup mereka (Kessler dkk, 1995). Sekitar 2% orang Amerika dewasa sekarang ini menunjukkan bukti mereka dapat didiagnosis sebagai penderita PTSD.  

 Isi merupakan bagian dari Makalah Konseling untuk Konseli Terbelakang Mental dan Kesulitan Belajar mata kuliah Wawasan BK yang diampu Dr. Imam Tadjri, M.Pd. Makalah ini ditulis oleh Mahasiswa Pascasarjana Prodi Bimbingan dan Konseling UNNES atas nama Galuh Hartinah

Versi Lengkap tersedia di Base... silahkan request melalui kolom komentar jika ingin mendapatkan makalah lengkap. Jangan lupa klik iklan gan. biar ane nambah semangat update. Terima kasih

0 التعليق:

Post a Comment

Penulis
Pendidikan
1. S1 BK (STKIPMPL)
2. S2 BK (Unnes)