Ajaran Islam Sebagai Metode Mendeteksi Penyakit Fisik dan Mental

Ajaran-ajaran Islam dapat kita jadikan metode untuk mendeteksi penyakit. misalnya jika kita tak bisa bersalaman, waspadai adanya apraksia. Jika kita tak bisa menangis, mungkin ada gangguan pada nervus optikus. Jika perilaku kita buruk, mungkin kita ada gangguan pada lobus frontal. jika kita tak mau sholat berjamaah dan bersosialisasi dengan masyarakat, waspadai gejala skizofrenia!.

Anda telah membaca e-book saya yang berjudul Islam Therapy Edisi Satu Abad Kebangkitan Nasional, yang saya sebarluaskan secara gratis di blog saya. sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ternyata ajaran-ajaran Islam seperti sholat, dzikir, do’a, dan lain-lain, dapat kita jadikan modalitas terapi untuk mengatasi gangguan fisik dan mental.

Kini, saya yang bodoh ingin menyampaikan apa yang saya pahami tentang kehebatan ajaran Islam yang lain. Betulkah ajaran Islam dapat kita jadikan metode mendeteksi penyakit?

Kesadaran

Seluruh ajaran Islam adalah tentang sadar dan menyadarkan. Orang yang sadar harus menyadarkan orang yang tidak sadar dan orang yang tidak sadar harus disadarkan. Allah mengutus para nabi adalah untuk menyadarkan umat manusia ketika kesadaran umat manusia semakin menurun. Allah juga menjaga kesadaran para kekasih-Nya dengan peringatan, ujian, musibah, penyakit, dan sebagainya.

Menurut para pakar neurologi, Kesadaran merupakan fungsi utama susunan saraf pusat. Untuk mempertahankan fungsi kesadaran yang baik, perlu suatu interaksi yang konstan dan efektif antara hemisfer serebri yang intak dan formasio retikularis di batang otak. Gangguan pada hemisfer serebri atau formasio retikularis dapat menimbulkan gangguan kesadaran. Bergantung pada beratnya kerusakan, gangguan kesadaran dapat berupa apati, delirium, somnolen, sopor atau koma. Koma sebagai kegawatan maksimal fungsi susunan saraf pusat memerlukan tindakan yang cepat dan tepat, sebab makin lama koma berlangsung makin parah keadaan susunan saraf pusat sehingga kemungkinan makin kecil terjadinya penyembuhan sempurna.

Anatomi Fisiologi

Lintasan asendens dalam susunan saraf pusat yang menyalurkan impuls sensorik protopatik, propioseptik dan perasa pancaindra dari perifer ke daerah korteks perseptif primer disebut lintasan asendens spesifik atau lintasan asendens lemniskal.

Ada pula lintasan asendens aspesifik yakni formasio retikularis di sepanjang batang otak yang menerima dan menyalurkan impuls dari lintasan spesifik melalui koleteral ke pusat kesadaran pada batang otak bagian atas serta meneruskannya ke nukleus intralaminaris talami yang selanjutnya disebarkan difus ke seluruh permukaan otak.

Pada hewan, pusat kesadaran (arousal centre) terletak di rostral formasio retikularis daerah pons sedangkan pada manusia pusat kesadaran terdapat didaerah pons, formasio retikularis daerah mesensefalon dan diensefalon. Lintasan aspesifik ini oleh Merruzi dan Magoum disebut diffuse ascending reticular activating system (ARAS). Melalui lintasan aspesifik ini, suatu impuls dari perifer akan menimbulkan rangsangan pada seluruh permukaan korteks serebri.

Dengan adanya 2 sistem lrntasan tersebut terdapatlah penghantaran asendens yang pada pokoknya berbeda. Lintasan spesifik menghantarkan impuls dari satu titik pada alat reseptor ke satu titik pada korteks perseptif primer. Sebaliknya lintasan asendens aspesifik menghantarkan setiap impuls dari titik manapun pada tubuh ke seluruh korteks serebri. Neuron-neuron di korteks serebri yang digalakkan oleh impuls asendens aspesifik itu dinamakan neuron pengemban kewaspadaan, sedangkan yang berasal dari formasio retikularis dan nuklei intralaminaris talami disebut neuron penggalak kewaspadaan. Gangguan pada kedua jenis neuron tersebut oleh sebab apapun, termasuk gangguan setan dan memakan makanan dari hasil uang haram, akan menimbulkan gangguan kesadaran.

ETIOLOGI

A. Menurut kausa :

1. Kelainan otak

— trauma : komosio, kontusio, laserasio, hematoma epidural, hematoma, subdural.

— gangguan sirkulasi : perdarahan intraserebral, infark, otak oleh trombosis dan emboli.

— radang : ensefalitis, meningitis.

— neoplasma : primer, metastatik.

— epilepsi : status epilepsi.

2. Kelainan sistemik

— gangguan metabolisme dan elektrolit : hipoglikemia, diabetik ketoasidosis, uremia, gangguan hepar, hipokalsemia, hiponatremia.

— hipoksia : penyakit paru berat, kegagalan jantung berat, anemia berat.

— toksik : keracunan CO, logam berat, obat, alkohol.

B. Menurut mekanisme gangguan serta letak lesi :

- gangguan kesadaran pada lesi supratentorial.

— gangguan kesadaran pada lesi infratentorial.

— gangguan difus (gangguan metabolik).

PATOFISIOLOGI

Lesi Supratentorial

Pada lesi supratentorial, gangguan kesadaran akan terjadi baik oleh kerusakan langsung pada jaringan otak atau akibat penggeseran dan kompresi pada ARAS karena proses tersebut maupun oleh gangguan vaskularisasi dan edema yang diakibatkannya.

Proses ini menjalar secara radial dari lokasi lesi kemudian ke arah rostro-kaudal sepanjang batang otak. Gejala-gejala klinik akan timbul sesuai dengan perjalan proses tersebut yang dimulai dengan gejala-gejala neurologik fokal sesuai dengan lokasi lesi. Jika keadaan bertambah berat dapat timbul sindroma diensefalon, sindroma mesensefalon bahkan sindroma ponto-meduler dan deserebrasi. Oleh kenaikan tekanan intrakranial dapat terjadi herniasi girus singuli di kolong falks serebri, herniasi transtentoril dan herniasi unkus lobus temporalis melalui insisura tentorii.

Lesi infratentorial

Pada lesi infratentorial, gangguan kesadaran dapat terjadi karena kerusakan ARAS baik oleh proses intrinsik pada batang otak maupun oleh proses ekstrinsik.

Gangguan difus (gangguan metabolik)

Pada penyakit metabolik, gangguan neurologik umumnya bilateral dan hampir selalu simetrik. Selain itu gejala neurologiknya tidak dapat dilokalisir pada suatu susunan anatomik tertentu pada susunan saraf pusat. Penyebab gangguan kesadaran pada golongan ini terutama akibat kekurangan O2, kekurangan glukosa, gangguan sirkulasi darah serta pengaruh berbagai macam toksin.

Kekurangan O2

Otak yang normal memerlukan 3.3 cc O2/100 gr otak/menit yang disebut Cerebral Metabolic Rate for Oxygen (CMR O2).

CMR O2 ini pada berbagai kondisi normal tidak banyak berubah. Hanya pada kejang-kejang CMR O2 meningkat dan jika timbul gangguan fungsi otak, CMR O2 menurun. Pada CMR O2 kurang dari 2.5 cc/100 gram otak/menit akan mulai terjadi gangguan mental dan umumnya bila kurang dari 2 cc 02/100 gram otak/menit terjadi koma.

Glukosa

Energi otak hanya diperoleh dari glukosa. Tiap 100 gram otak memerlukan 5.5 mgr glukosa/menit. Menurut Hinwich pada hipoglikemi, gangguan pertama terjadi pada serebrum dan kemudian progresif ke batang otak yang letaknya lebih kaudal.

Menurut Arduini hipoglikemi menyebabkan depresi selektif pada susunan saraf pusat yang dimulai pada formasio retikularis dan kemudian menjalar ke bagian-bagian lain. Pada hipoglikemi, penurunan atau gangguan kesadaran merupakan gejala dini.

Gangguan sirkulasi darah

Untuk mencukupi keperluan O2 dan glukosa, aliran darah ke otak memegang peranan penting. Bila aliran darah ke otak berkurang, O2 dan glukosa darah juga akan berkurang.

Toksin

Gangguan kesadaran dapat terjadi oleh toksin yang berasal dari penyakit metabolik dalam tubuh sendiri atau toksin yang berasal dari luar (narkoba) / akibat infeksi.

KLINIK

Kesadaran mempunyai 2 aspek yakni derajat kesadaran dan kualitas kesadaran. Derajat kesadaran atau tinggi rendahnya kesadaran mencerminkan tingkat kemampuan sadar seseorang dan merupakan manifestasi aktifitas fungsional ARAS terhadap stimulus somato-sensorik. Kualitas kesadaran atau isi kesadaran menunjukkan kemampuan dalam mengenal diri sendiri dan sekitarnya yang merupakan fungsi hemisfer serebri.

Perbedaan kedua aspek tersebut sangat penting sebab ada beberapa bentuk gangguan kesadaran yang derajat kesadarannya tidak terganggu tetapi kualitas kesadarannya berubah. Dalam klinik dikenal tingkat-tingkat kesadaran : kompos mentis, inkompos mentis (apati, delir, somnolen, sopor, koma)

Kompos mentis : Keadaan waspada dan terjaga pada seseorang yang bereaksi sepenuhnya dan adekuat terhadap rangsang visuil, auditorik dan sensorik. Ia sadar untuk apa dirinya diciptakan oleh Allah. Ia sadar bahwa dirinya adalah wakil Allah (khalifah) di muka bumi untuk menjaga diri, orang lain dan lingkungan. Ia sadar bahwa alam semesta adalah hasil penciptaan. Mendengar adzan dikumandangkan, ia langsung bergegas pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Melihat orang butuh pertolongan, ia segera menolong atau jika tidak bisa menolong, ia akan menyeru orang lain yang bisa menolong untuk memberikan pertolongan.

Apati : sikap acuh tak acuh, tidak segera menjawab bila ditanya. Mendengar adzan dikumandangkan, ia cuek. Ada orang butung pertolongan, berpikir lama sebelum menolong.

Delir : kesadaran menurun disertai kekacauan mental dan motorik seperti desorientasi, iritatif, salah persepsi terhadap rangsang sensorik, sering timbul ilusi dan halusinasi. Ia mudah marah, tidak sabar, selalu berburuk sangka, benci jika disadarkan, ia dirundung penyakit-penyakit jiwa.

Somnolen : penderita mudah dibangunkan, dapat bereaksi secara motorik atau verbal yang layak tetapi setelah memberikan respons, ia terlena kembali bila rangsangan dihentikan. ia kembali ke agama hanya saat ada masalah, diberi penyakit, diberi shock terapi dengan cerita tentang adzab kubur atau siksa jahanam. masalah hilang, hilang pula keinginan beribadah. orang seperti ini harus sering diberi masalah.

Sopor (stupor) : penderita hanya dapat dibangunkan dalam waktu singkat oleh rangsang nyeri yang hebat dan berulang-ulang. Makanya Allah harus menjaga kesadarannya dengan terus-terusan memberinya masalah besar agar kesadarannya tidak semakin menurun.

Koma : tidak ada sama sekali jawaban terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun hebatnya. Orang seperti ini diberi peringatan atau tidak, tak akan sadar. Bencana sebesar apa pun tak akan menyadarkannya. Dunia diancam XXX (Narkoba, HIV/AIDS, dan Gangguan Jiwa) tak peduli.

PEMERIKSAAN KLINIK

Pemeriksaan klinik penting untuk etiologi dan letaknya proses patologik (hemisfer batang otak atau gangguan sistemik). Pemeriksaan sistematis dilakukan sebagai berikut :

Anamnesis

— penyakit-penyakit yang diderita sebelumnya. Misalnya korupsi, atheisme, dan lain-lain.

— keluhan penderita sebelum terjadi gangguan kesadaran.

— obat-obat diminum atau pengobatan sebelumnya. Tanyakan pula, agama apa yang dianut sebelumnya.

— apakah gangguan kesadaran terjadi mendadak atau perlahan-lahan.

Pemeriksaan fisik

— tanda-tanda vital : nadi, pernapasan, tensi, suhu.

— kulit : ikterus, sianosis, luka-luka karena trauma

— toraks : paru-paru, jantung.

— abdomen dan ekstremitas

Demikianlah, seperti yang telah kita bahas sejauh ini, kesadaran dapat kita jadikan metode untuk mendeteksi penyakit. Jika disadarkan oleh apa pun tak membuat kita bergeming, mungkin kita sedang dalam keadaan koma.

Berkomunikasi dengan Baik, Menyimak, Membaca dan Menulis

Berkomunikasi dengan baik adalah bagian dari ajaran Islam. Dakwah dapat kita jadikan latihan untuk berkomunikasi dengan baik. Bersosialisasi dengan orang lain membutuhkan keterampilan berkomunikasi. Mengucapkan salam adalah cara latihan bicara yang mudah.

Ketika kita membaca al-qur’an, hadist, atau mendengarkan ceramah agama dan kata-kata kebaikan, kita harus menyimaknya dengan baik. Kita juga harus banyak membaca agar ilmu kita bertambah. Terlebih, perintah membaca adalah ayat al-quran pertama yang Allah turunkan. Sedangkan menulis adalah untuk penyebarluasan informasi.

Afasia adalah gangguan bahasa yang multimodalitas, artinya tidak mampu berbicara, menyimak, menulis dan membaca. Tergantung dari jenis afasianya, ketidak mampuan dalam modalitas tersebut tidak merata tetapi satu lebih menonjol dari yang lain.

Jika kita sulit berkomunikasi dengan baik, daya menyimak kita menurun, kemampuan membaca dalam arti luas terganggu, dan keterampilan menulis hilang, kita patut curiga bahwa kita mengidap afasia.

Mengamati, Memikirkan, dan Bertindak

Tiga unsur tingkah laku manusia terhadap alam sekelilingnya ialah pengamatan, pikiran dan tindakan. Ayat-ayat al-qur’an mengajak kita mengamati, berpikir, dan bertindak. Dalam bidang neurologi tiga unsur tersebut tertuang dalam fungsi sensorik, luhur dan motorik.

Dalam keadaan sakit, unsur-unsur tadi dapat terganggu. Gangguan tersebut dapat berupa gejala neurologik elementer, misalnya hemiparesis, hemihipestesia, koma, kejang dan sebagainya tetapi dapat pula berupa gejala neurologik luhur, yang merupakan kelainan integratif yang kompleks dari ke tiga fungsi di atas.

Yang dimaksud dengan fungsi luhur atau fungsi kortikal luhur adalah fungsi-fungsi :

1. bahasa

2. persepsi

3. memori

4. emosi

5. kognitif

Dalam neurologi, gejala elementer dan luhur dipergunakan untuk menetapkan adanya kerusakan di otak, baik tentang lokalisasi maupun luas lesinya. Ke dua fungsi tersebut sama pentingnya dalam penetapan diagnosis. Juga keduanya menuruti prinsip organisasi lateral dan longitudinal serebral.

Masih banyak ajaran-ajaran Islam yang dapat kita jadikan metode untuk mendeteksi penyakit, misalnya jika kita tak bisa bersalaman, waspadai adanya apraksia. Jika kita tak bisa menangis, mungkin ada gangguan pada nervus optikus. Jika perilaku kita buruk, mungkin kita ada gangguan pada lobus frontal. jika kita tak mau sholat berjamaah dan bersosialisasi dengan masyarakat, waspadai gejala skizofrenia!. Dan lain-lain.

Menariknya, rata-rata gangguan yang telah saya paparkan sejauh ini disebabkan oleh gangguan peredaran darah di otak sedangkan setan berjalan dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Cara terbaik untuk menghindari gangguan setan adalah berlindung kepada Allah, ikuti semua perintah-Nya dan jauhi semua larangan-Nya.

Mudah-mudahan pembahasan yang lebih luas tentang menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai metode mendeteksi penyakit dapat saya susun dalam suatu e-book. Wallahu a’lam (Muhammad Yusuf)

Daftar referensi :

1. Cermin Dunia Kedokteran, No. 34, Masalah Otak, 1984

2. VCD Keajaiban Otak, Harun Yahya, NCR

3. VCD Brain Story 1-4

4. Neurologi Klinik ”Pemeriksaan fisik dan mental”, Prof. DR.dr. S.M Lumbantobing, Fakultas Kedokteran UI

5. ISLAM THERAPY (benderahitam.wordpress.com)

Membaca on-line Sistem Saraf sebagai Sistem Pengendali Tubuh

SHARE THIS

Author:

Pendidikan : S1 BK, S2 BK. Pekerjaan : Dosen STMIK Pringsewu, Dosen Tamu BKI FDIK UIN Lampung. Keahlian : Model-model Konseling, BK Komprehensif, Konseling kelompok, Statistik Sosial

Previous Post
Next Post