MENJADI ORANG YANG DISUKAI ORANG LAIN


Belajar Dari Kasus

Sebetulnya penting nggak sih disukai banyak orang itu? Jawabannya bisa penting dan bisa tidak. Ini tergantung keadaan, alasan, dan konteks. Tetapi, secara umum, naluri dasariyah manusia itu punya kecenderungan untuk ingin disenangi. Buktinya, orang akan merasa bahagia jika dirinya disenangi banyak orang. Sebaliknya, orang akan merasa gelisah atau (minimalnya) kurang bahagia ketika dibenci atau kurang disenangi.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana supaya kita termasuk orang yang disengani orang lain? Secara teori memang tidak kita ditemukan tehnik baku untuk itu. Dari praktek hidup, ada petunjuk yang bisa kita tangkap. Salah satunya adalah, manusia itu cenderung kurang menyenangi sifat atau prilaku yang ekstrim (terlalu di tepi atau terlalu) untuk hal-hal yang sifatnya pilihan / bisa dipilih. Tetapi ini tidak semuanya juga. Kalau melihat beberapa kasus yang umum, prilaku atau sifat yang berpotensi mengundang ketidaksenangan itu antara lain:

Pertama, terlalu diam atau terlalu ramai. Idealnya, kita memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara tentang dirinya, tentang pengetahuannya atau tentang pengalamannya. Di samping itu, kita pun perlu memberikan kesempatan untuk mendengarkan. Sehingga yang terjadi adalah dialog untuk saling memberi-menerima atau terjadi percakapan yang hangat. Kehangatan dialog bisa mengundang kesenangan atau kesan yang menyenangkan.

Tapi, jika kita hanya menjadi pendengar yang terlalu diam, pasif, lebih-lebih lagi kurang antusias untuk memberikan tanggapan kepada orang lain, ini berpotensi mengundang ketidaksenangan. Sebaliknya juga begitu. Jika kita yang mendominasi pembicaraan, kita mengungkapkan diri kita panjang lebar, lebih-lebih ditambah dengan sikap yang kurang menunjukkan rasa hormat ketika orang lain mengutarakan dirinya, inipun berpotensi mengundang ketidaksenangan.

Jadi, terlalu diam itu tidak bagus, namun terlalu ramai juga kurang bagus. Terlalu pasif tidak bagus, tetapi terlalu aktif juga tidak bagus. Terlalu diam membuat orang lain boring, tetapi terlalu ramai membuat orang lain merasa tidak nyaman. Menurut teori hubungan, terlalu diam atau terlalu pasif itu biasanya dilakukan oleh sebagian orang yang abdicraft. Lawannya adalah autocraft, terlalu aktif, terlalu ingin mendominasi, dan seterusnya. Yang disarankan adalah menjadi orang yang demokratik: tidak memaksakan kehendak pribadi, pun juga tidak terlalu pasif dan dingin. Terlalu ramai sering diberi julukan "omdo"(omong doang) atau big mouth (si mulut besar). Sebaliknya, terlalu diam sering diberi julukan "si patung", pengekor, dan lain-lain.

Kedua, terlalu ikut campur atau terlalu cuek. Idealnya, yang dibutuhkan adalah memberikan perhatian (care) atau share feeling (berbagi rasa) pada saat-saat dibutuhkan (empati). Perhatian ini banyak. Bisa dalam bentuk perasaan, sikap atau tindakan. Orang akan merasa lebih dihormati ketika dia tahu kita menaruh empati. Empati adalah peduli yang kita nyatakan dalam berbagai bentuk. Dalam konsep pengembangan-diri, empati termasuk pilar dalam meningkatkan interpersonal skill. Interpersonal skill adalah kemampuan seseorang dalam membuka, menjaga, dan memberdayakan hubungan (dengan orang lain).

Ciri-ciri orang yang punya kemampuan bagus di hal ini, antara lain:
Empati: bisa berbagi dan peduli pada orang lain
Mendukung kemajuan orang lain (developing others)
Berkomunikasi secara efektif
Bisa mendengarkan orang lain
Punya komitmen yang tinggi dalam menaati janji atau kesepakatan
Bisa menghormati orang lain
Bisa melihat sisi positif dan negatif secara objektif

Jika empati mengundang kesenangan orang, maka terlalu ikut campur ke dalam wilayah / urusan pribadi orang lain sering dinilai berpotensi mengundang ketidaksenangan. Lebih-lebih jika campur tangan itu dinilai malah menambah masalah (bukan menyelesaikan / mengurangi masalah) atau membuat orang merasa kurang nyaman. Ada sih wilayah tertentu yang diharapkan campur tangan kita. Tetapi biasanya tetap ada limit / pembatas yang sudah dipasang lampu merah yang artinya adalah: jangan terlalu masuk ke dalam. Memang ini jarang diucapkan.

Begitu juga terlalu cuek, terlalu tidak perduli, atau terlalu masa bodoh. Yang lebih sering terjadi, terlalu cuek sama jeleknya dengan terlalu ikut campur. Kalau melihat teori tentang hubungan manusia, terlalu ikut campur itu biasanya dilakukan oleh sebagian orang-orang yang oversocial. Sebaliknya, terlalu cuek itu biasanya dilakukan oleh sebagian orang yang undersocial. Baik yang over atau yang under, keduanya sering dinilai kurang bagus. Yang disarankan adalah menjadi inklusif: tidak terlalu cuek dan tidak terlalu ikut campur.

Ketiga, terlalu tertutup atau terlalu terbuka. Idealnya, kita perlu membuat penjelasan-diri tentang hal-hal yang perlu dijelaskan dan perlu tidak menjelaskan hal-hal yang tidak perlu. Apanya yang perlu dan apanya yang tidak perlu? Inipun sulit dijelaskan. Umumnya, yang perlu dan yang tidak perlu itu hanya bisa dipahami oleh perasaan.

Dalam literatur keilmuan dikenal istilah self-disclosure, pengungkapan-diri yang dimaksudkan untuk meningkatkan makna / kualitas hubungan. Self-disclosure ini berbeda dengan self-description (penjelasan-diri). Perbedaan yang paling mendasar adalah, self-disclosure itu merupakan bentuk pengungkapan-diri tentang hal-hal yang signifikan bagi diri sendiri dan bagi orang lain (benar-benar penting untuk membangun hubungan).

Self-diclosure ini bukan saja akan mengundang kesenangan dan keakraban, tetapi malah bisa mengundang kepercayaan (trust). Dalam Psychology & Life (1979) dinyatakan bahwa trust dimulai dari self-diclosure. Jadi, biasanya, dari pengungkapan lahirlah keakraban dan dari keakraban lahirlah kepercayaan. Tapi, katanya, self-disclosure di sini bukan sebatas pada pernyataan mulut (verbal statement of self-diclosure), melainkan serangkaian tindakan yang bisa menjelaskan siapa diri kita. Kalau apa yang kita ucapkan itu berbeda dengan apa yang kita lakukan, bisa-bisa ini malah mengundang ketidaksenangan dan ketidakpercayaan.
Meskipun demikian, terlalu terbuka juga mengundang ketidaksenangan. Apa-apa bilang sama orang lain atau ditunjukkan kepada orang lain sehingga bisa ditafsirkan pamer. Bukan hanya itu, terlalu terbuka juga kerapkali menjadi kelemahan. Untuk membangun keakraban, terlalu terbuka itu seringkali sama jeleknya dengan terlalu tertutup. Terlalu tertutup sangat sering ditafsirkan sebagai upaya untuk menjaga jarak, seperti layaknya minyak dan air. Kalau ini diterapkan kepada orang yang baru kenal tentu baik-baik saja, namun kalau diterapkan pada orang yang sudah lama menjalin hubungan, biasanya ini kurang powerful untuk membangun keakraban.

Tiga poin di atas itu memang baru kasus-kasus umum yang punya ketergantungan pada konteks yang sangat spesifik. Artinya tidak bisa dijeneralisasi. Misalnya saja ada orang yang cerewetnya minta ampun. Untuk orang yang sudah mengenal dan memahami, tentu tidak ada masalah. Tapi untuk situasi baru dan orang baru, bisa saja hasilnya beda.

Dalam prakteknya, senang dan tidak senangnya orang itu lebih sering terkait dengan soal pemahaman dan kesaling-memahami (mutual understanding). Karena itu, banyak orang yang membenci orang lain karena salah paham, kurang paham, atau tidak saling memahami. Begitu juga banyak orang yang menyenangi orang lain karena sudah saling memahami.

PRINSIP & TEORI LIKING & DISLIKING

Dalam teori ilmu pengetahuan, kita bisa temukan banyak penjelasan seputar liking (suka) dan disliking (ketidaksukaan). Dengan melihat ini mudah-mudahan bisa kita gunakan untuk memahami realitas dan bisa pula kita gunakan untuk memperbaikinya. Sebagian dari sekian teori pengetahuan yang berbicara soal like dan dislike ini antara lain:

Physical Attractiviness theory. Secara naluri, orang akan lebih menyukai orang lain yang menarik dari sisi penampilan fisik. Ini misalnya saja: cantik, tampan, bersih, rapi, teratur, dan seterusnya dan seterusnya. Orang yang penampilannya paling tidak rapi sekalipun terkadang tidak menyukai orang lain yang tidak rapi. Perokok sendiri sering tidak menyukai perokok lain yang merokoknya sembarangan.

Competency theory: Orang cenderung lebih menyukai orang lain yang lebih kompeten, punya banyak kebisaan, lebih kreatif, lebih terampil, lebih smart, dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan untuk urusan pekerjaan, orang lebih menyukai / mempercayai orang lain karena melihat kompetensinya ketimbangan saudaranya, anaknya atau sahabat karibnya.

Reciprocal theory. Orang cenderung menyukai orang lain yang menyukainya (ada timbal baliknya). Like attracts like, begitu katanya. Tapi ini masih dengan catatan bahwa kesukaan yang kita tunjukkan itu haruslah genuine, bukan dibuat-buat atau hanya untuk mencari muka. Kalau itu dibuat-buat atau hanya sekedar untuk mencari muka, biasanya malah menimbulkan ketidaksenangan.

Similiarity & Complementary theory. Orang cenderung menyukai orang lain yang punya beberapa kemiripan / kesamaan dengan dirinya. Ini misalnya saja: satu daerah, satu almamater, satu partai, satu hobi, satu visi, satu pemikiran, satu perasaan, dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi katanya, kesamaan dan kemiripan ini tidak mampu menghasilkan kesenangan yang langgeng apabila tidak ditopang oleh unsur lain yang menjadi penguatnya. Karena itu harus ada complementary-nya: saling mengisi, saling mendukung, saling memberi-mendapatkan, dan seterusnya. Jika complementary-nya tidak muncul, maka dengan sendirinya similiarity-nya itu hanya sekedar masa lalu.

Exchange theory. Orang akan menyenangi orang lain yang memberikan untung, nilai plus, atau manfaat kepadanya. Minimalnya tidak sampai merugikan. Soal itu berupa materi atau non-materi, itu soal konteks. Prinsipnya, tidak ada manusia yang bisa menerima kerugian dari proses interaksi yang dijalankan.

Reinforcement theory. Orang akan menyenangi orang lain yang menghargai dirinya. Ini tidak saja dialamatkan secara khusus kepada orang yang memberi penghargaan itu, melainkan juga kepada orang yang dekat dengan si pemberi. Memberi penghargaan dapat memasukkan bentuk-bentuk perasaan positif.

Gain-loss theory. Menurut teori ini, kita akan menyukai orang lain yang evaluasinya, koreksinya, atau dukungannya kepada kita cenderung selalu membaik, bukan semakin memburuk atau biasa-biasa saja. Sebaliknya juga begitu. Kita lebih cenderung akan tidak senang sama orang lain yang makin lama bukannya makin baik penilaiannya, sikapnya atau perlakuannya.

Jika di atas kita sudah melihat kasus-kasus umum dengan konteks yang spesifik, nah di bawah ini mari kita melihat nilai-nilai dasar yang pasti akan menghasilkan kebencian atau kesenangan. Nilai-nilai dasar ini berlaku universal, tidak melihat orang, keadaan, konteks, tempat, dan tidak tergantung pada atribut eksternal (misalnya agama, suku, pendidikan, atau status sosial).

Apa saja nilai-nilai dasar itu? pasti sebagian besarnya sudah kita ketahui. Yang diperlukan oleh kita bukan pengetahuan, tetapi menyadarinya dalam praktek hidup. Ini misalnya saja:
Takabbur: mengangkat diri sendiri dengan motif (sembunyi atau terang-terangan) untuk merendahkan orang lain
Iri-dengki (hasad): senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang; menginginkan nikmat orang lain pindah ke dirinya, menginginkan nikmat orang lain hilang, dst
Kurang menjaga komitmen / kesepakatan: ingkar janji, membohongi, menipu, dan seterusnya
Kalau melihat literatur psikologi, akan kita temukan juga istilah personality disorder, keganjilan yang berpotensi mengundang ketidaksenangan orang lain apabila sudah melebihi batas proporsional. Ini misalnya saja:
Terlalu curiga sama orang lain, tidak bisa memaafkan orang lain (terutama dari yang kecil-kecil), gampang bermusuhan, suka mengkritik segalanya
Menampilkan aura pesimisme, mengurung-diri, nggak peduli dengan kritikan atau pujian
Suka cerita yang aneh-aneh (tidak masuk akal), suka berpenampilan yang aneh (di luar untuk pentas seni), suka punya kekhawatiran yang berlebihan terhadap keadaan
Temparemen tinggi, ugal-ugalan (lose control), tidak peduli dengan tanggung jawab, kerap bikin aksi yang membahayakan orang lain
Mood yang tidak stabil (gampang mencintai dan gampang membenci), terlalu besar bergantung pada orang lain, atau terlalu gampang tersinggung
Mudah terpengaruh, plin-plan, ngomongnya ngacau kemana-mana
Arogan, punya keinginan berlebihan untuk dihormati, gampang tersinggung, susah memahami posisi orang lain
Terlalu minder, kurang mau mengambil resiko, mau enaknya saja tetapi resikonya tidak mau, jarang ke luar atau sedikit interaksi dengan orang banyak
Terlalu diam karena takut dibenci, menggantungkan kebahagian dirinya pada orang lain, sering merasa tak punya siapa-siapa di dunia ini
Terlalu idealis, terlalu kaku mempraktekkan pengetahuan, tradisi, atau pemahaman agama (memedomani "kebenaran-sendiri" secara berlebihan), keras kepala

Itu semua adalah contoh-contoh yang bisa kita jadikan acuan dalam berinteraksi. Memang tidak semuanya dapat mengundang ketidaksenangan, tetapi minimalnya dapat menghambat keakraban.

Beberapa Catatan

Terlepas apakah kita menganggap persoalan "disenangi" dan "kurang disenangi" ini sebagai urusan penting atau tidak, namun ada beberapa poin yang perlu kita jadikan catatan-pribadi. Ini antara lain:

Perlu berpikir realistis yang berdasarkan pada akal sehat. Artinya, tidak mungkin ada orang yang disenangi oleh semua orang atau dibenci oleh semuanya. Kaidahnya adalah sebagian besar, sebagian kecil, umumnya, mayoritasnya, dan lain-lain.
Jangan menjadikannya sebagai tujuan. Kalau kita ingin melakukan sesuatu atau menampilkan sifat tertentu, namun tujuan kita hanya untuk disenangi orang, biasanya yang kita dapat malah sebaliknya. Jadi gimana? Idealnya adalah, kita melakukan hal-hal positif, berkepribadian positif, bersikap positif, dan lain-lain, tetapi itu semua kita hayati sebagai proses aktualisasi-diri (perbaikan-diri). Titik. Soal orang itu suka atau tidak, ini urusan mereka.

Tidak cukup berhenti hanya pada level "disenangi". Kalau dikembalikan ke urusan pengembangan-diri (self-development), yang paling penting adalah dipercaya orang lain. Bahwa untuk dipercaya itu harus disenangi dulu, memang itu lebih sering benarnya.

Jangan menjadikannya sebagai bungkus belaka atau trik yang menipu atau mengelabuhi (orang lain dan diri sendiri). Misalnya kita berprilaku “sok” bersih, sopan, semangat, intelek, bodo, dan lain-lain, namun itu semua didasari motif untuk melancarkan urusan yang merugikan orang lain. Idealnya, kita perlu menjadikannya sebagai karakter atau sifat, bukan sebatas sebagai ekspresi kepribadian yang dikondisikan oleh kepentingan sesaat. Memang terkadang ini sulit dihindari. Tetapi, baiknya kita tetap beracuan pada karakter atau sifat.

Tetap dimulai dari dalam diri kita lebih dulu. Ingin disenangi orang lain tetapi kurang senang dengan orang lain, ini sulit. Ingin hubungan terjaga dengan bagus, tetapi kita (dalam prakteknya) melakukan hal-hal yang merusak, ini juga sulit.
Semoga bermanfaat.

SHARE THIS

Author:

Pendidikan : S1 BK, S2 BK. Pekerjaan : Dosen STMIK Pringsewu, Dosen Tamu BKI FDIK UIN Lampung. Keahlian : Model-model Konseling, BK Komprehensif, Konseling kelompok, Statistik Sosial

Previous Post
Next Post